Headline News

Read more: http://secebisilmu.blogspot.com/2013/05/cara-pasang-berita-terbaru-headline.html#ixzz2Vs7VTXPC

Share It

Selasa, 23 Juli 2013

Hadiri Syawalan Pasag Merapi 2013

Pasag merapi akan mengadakan halal bihalal yg di kemas touring merapi / keliling Merapi pd tgl 25 agst 2013 hari minggu yangg akan di mulai dari sleman dan Magelang dan finis di tlatar boyolali dengan pendaftaran Rp 20.000 tempat pendaftaran di kordinator masing 2 kab .atau di frekfensi HT Pasag 14.9280 mhz, atau 15.1060 mhz info lebih lengkap silahkan hubungi kami cp; 0818 02781352 , 081915501441 , 085742472035

Senin, 22 Juli 2013

AKTIVITAS GUNUNG MERAPI


 15 - 22 Juli 2013
 Pada minggu ini, cuaca teramati cerah pada pagi sampai siang hari. Hujan sesekali terjadi namun tidak merata, angin bertiup tenang. Suhu di sekitar berkisar antara 13-30 0C. Pada tanggal 22 Juli 2013 pukul 04.15 teramati hembusan asap kuat berwarna coklat kehitaman dengan tinggi asap mencapai 1.000 m diamati dari Pos Selo, disertai suara gemuruh yang terdengar dari sekitar G. Merapi pada radius 6-7 km. Kejadian tersebut menyebabkan terjadinya hujan abu vulkanik dan pasir ke sektor Tenggara, Selatan, dan Barat Daya. Gambar 1 menunjukan kejadian setelah terjadi hembusan yang membawa material berupa abu dan pasir teramati dari Dusun Stabelan Desa Tlogolele pada tanggal 22 Juli 2013 pukul 06.30 WIB.
 
 
Gambar 1. Kondisi Puncak G. Merapi Paska hembusan asap 22 Juli 2013 Dusun Stabelan, Desa Tlogolele.
 
  Pada tanggal 15 – 22 Juli 2013 (Pukul 08.00 WIB), kegempaan di G. Merapi tercatat gempa VB sebanyak 10 kali, MP 27 kali, LHF 87 kali, guguran 66 kali dan gempa Tektonik 7 kali. Kegempaan minggu sebelumnya yaitu gempa VB 1 kali, MP 5 kali, guguran 15 kali dan LHF tidak terjadi. Terjadi peningkatan jumlah gempa-gempa dangkal seperti VB, MP, LHF dalam minggu ini. Peningkatan gempa-gempa dangkal ini diduga sebagai penyebab terjadinya hembusan asap yang terjadi pada Senin, 22 Juli 2013. Karena hanya gempa-gempa dangkal saja yang meningkat, kemungkinan hembusan tersebut sebagai aktivitas vulkanik permukaan. Gambar 2 menunjukkan statistik kegempaan selama Januari hingga Juli 2013. Kegempaan yang terjadi di G. Merapi meningkat terutama gempa VB dan LHF.
 
 
 Gambar 2. Statistik Kegempaan G. Merapi Bulan Januari  – Juli 2013
 
  Data pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) di G. Merapi tidak menunjukkan adanya perubahan yang signifikan. Data EDM di Pos Selo menunjukkan perubahan sebesar +1 mm, Pos Babadan sebesar -4 mm, Pos Jrakah sebesar -3 mm dan Pos Kaliurang sebesar +9 mm. Secara umum, perubahan jarak antara titik pengukuran EDM dan reflektor sebesar kurang dari 10 mm maka  deformasi G. Merapi masih dalam batas normal. Hasil deformasi ini menunjukkan tidak adanya akumulasi tekanan yang cukup besar hingga menimbulkan deformasi permukaan tubuh gunung. Hembusan asap yang terjadi hanya disebabkan akumulasi tekanan sesaat karena adanya pelepasan gas vulkanik. Hasil pengukuran EDM di Pos Selo, Jrakah, Babadan dan Kaliurang terlihat pada Gambar 3.

 
 
Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan,  dan Selo Bulan Januari 2012 –  Juli  2013
 


    Pemantauan deformasi berdasarkan tiltmeter pada minggu ini juga tidak menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan antara alat yang berada di daerah Plawangan (Gambar 4). Perubahan data tiltmeter pada sumbu x yang mengarah ke Barat-Timur sebesar  0 mikroradian sedangkan sumbu y yang mengarah ke Utara-Selatan sebesar -0.6 mikroradian. Data tiltmeter digital stasiun Labuhan, Klatakan, dan Pasarbubar juga tidak menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan.
 


Gambar 4. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari– Juni 2013, sumbu X: arah Barat-Timur dan sumbu Y: arah Utara-Selatan dari stasiun Plawangan.
  Di sekitar G. Merapi, hujan masih terjadi dengan intensitas yang kecil (Gerimis). Gambar 5 menunjukkan curah hujan di setiap Pos Pengamatan pada Bulan Januari  hingga Juni 2013.
 
Gambar 5. Curah hujan di setiap pos pengamatan pada bulan Januari 2012 – Juli  2013
 


 
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas G. Merapi berada pada tingkat “Normal”.
 
III. SARAN
 
  1. Berdasarkan hasil pengamatan G. Merapi dinyatakan dalam status “Normal”
  2. Fenomena hembusan di G. Merapi merupakan fenomena yang sering terjadi paska letusan 2010, pendakian ke puncak G. Merapi direkomendasikan hingga Pasarbubar saja.
  3. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

  4. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.



    @BPPTKG

Jumat, 19 Juli 2013

Siswa SD Simulasi Kesiapsiagaan Erupsi Merapi


 
image
SIMULASI: 275 siswa SD di lereng Gunung Merapi mengikuti simulasi kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi. (suaramerdeka.com/MH Habib Shaleh)
MAGELANG, suaramerdeka.com -Sebanyak 275 siswa SD di lereng Gunung Merapi mengikuti simulasi kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana erupsi Gunung Merapi. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui kesiapan para siswa tersebut mengingat mereka tinggal di perkampungan teratas lereng Merapi.
Para siswa tersebut berasal dari SD Negeri Ngargomulyo, SD Kanisius Prontakan dan MI Guppi Ngargomulyo. Selain dilatih beragam teori tentang kegunungapian dan tata cara penyelamatan, mereka juga diharuskan mengikuti simulasi penyelamatan diri dari ancamana wan panas Merapi.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang Joko Sudibyo mengatakan erupsi Merapi bersifat rutin sehingga masyarakat harus disiapkan menghadapi ancaman dari Gunung Merapi.
"Pelatihan dan simulasi ini untuk meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi bencana. Hal ini perlu terus dilakukan agar saat terjadi bencana, masyarakat sudah paham apa yang harus dilakukan. Dengan demikian resiko bencana bisa diminimalisir," kata Joko.
Simulasi kesiapsiagaan sekolah menghadapi bencana ini difasilitasi oleh LSM Save the Children bekerjasama dengan Santri Siaga Bencana (SSB), PMI, Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Ngargomulyo, Pasag Merapi, SAR dan BPBD Kabupaten Magelang.
Menurut Koordinator Simulai dari LSM Save the Children Igansius Kendal pihaknya mulai memberikan pelatihan kepada masyarakat sejak sejak akhir 2011 lalu. Pelatihan yang diberikan meliputi pengetahuan kegunungapian, pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K), pemetaan dan membuat rambu-rambu serta jalur evakuasi
Kegiatan ini, kata dia, bertujuan untuk meminimalisir resiko bencana erupsi Merapi. Setelah simulasi ini, akan dilanjutkan dengan pembuatan Standar Operasional Prosedur (SOP) di tiga sekolah tersebut. "Harapan kami, tiga SD
ini memiliki standar bagaimana menangani bencana utamanya penyelamatan anak didiknya dari erupsi Merapi,” kata dia.
Kepala SD Negeri Ngargomulyo Muh Khabib mengatakan kegiatan tersebut sangat penting untuk memberikan bekal pengetahuan dan pengalaman kepada siswanya dalam menghadapi ancaman bencana alam. Hal ini karena lokasi sekolah dan tempat tinggal mereka berada di dalam kawasan rawan bencana erupsi Merapi.

Mengungsi, Menyelamatkan Diri


Ekspedisi Merapi 2009


barak pengungsianSeorang ayah dan anaknya lari tunggang-langgang dan terpaksa memasuki bungker perlindungan awan panas. Dengan napas yang masih terengah-engah mereka memasuki bungker berukuran 7×10 meter itu. Ketika semua pengungsi dipastikan telah masuk ke dalam bungker, petugas segera menutup dua pintu baja dan gas oksigen dari tabung-tabung oksigen dibuka untuk menyuplai kecukupan udara. Setelah keadaan dinilai aman, para pengungsi di dalam bungker langsung diangkut dengan mobil menuju barak pengungsian yang lebih aman. Itu tadi sekelumit adegan simulasi evakuasi bencana letusan Gunung Merapi di Tunggul Arum, Desa Wonokerto, Turi, Sleman, Yogyakarta, awal tahun 2009.

Dalam simulasi itu diperlihatkan betapa bungker memegang peranan penting dan menjadi alat perlindungan terakhir, saat pengungsi dinilai tak akan mampu bertarung kecepatan dengan awan panas Merapi. Untuk ini, kekuatan bungker menjadi hal pokok, dan kelengkapan prasarana seperti gas oksigen, obat-obatan serta alat komunikasi memegang peran vital.
Hal lain yang tak kalah penting adalah kesiapan petugas evakuator. Dalam skema evakuasi bencana Merapi, Kepala Dusun (Kadus) memegang peran sentral karena dialah yang mengendalikan proses evakuasi. Kadus dianggap tetua yang paling hafal dengan kondisi daerah, identitas, jumlah serta kondisi penduduknya.
Ujung tombak lain adalah relawan. Di Merapi ada Tim Siaga Pasag Merapi, yang telah dibekali dengan teknik-teknik evakuasi sehingga kesiap-siagaannya akan meningkat saat bencana letusan terjadi. Kemudian polisi, petugas pertahanan sipil, pejabat pemerintah daerah, TNI, tim medis dan relawan siaga bencana menjadi ujung tombak lain dalam proses evakuasi Merapi.
evakuasi 2
Secara umum, evakuasi diawali dengan analisis kebahayaan letusan dari instansi terkait yang berujung pada keluarnya perintah evakuasi penduduk dari pemerintah daerah. Di lapangan, evakuasi diawali dengan dikumpulkannya penduduk di satu titik yang telah disepakati, sebelum semuanya diangkut ke barak-barak pengungsian yang lebih aman. Sementara bungker awan panas disiagakan untuk menampung penduduk yang tertinggal dan tak mungkin dievakuasi saat itu karena membahayakan.
Ya, begitulah manusia menyiasati alam. Terkadang mereka harus menyingkir karena alam memang tak mungkin dilawan. Tapi ada satu hal yang pasti, di balik bencana, alam selalu memberikan berkah tersembunyi. Dan Merapi sudah membuktikan hal itu…

Talkshow Radio dan Diskusi Publik



29.08.2008,Yogyakarta dan Jawa Tengah merupakan salah satu wilayah di pulau Jawa yang memiliki risiko bencana terutama dari ancaman Letusan Gunungapi Merapi yang memiliki siklus erupsi antara 2 – 7 tahunan, yang meliputi 4 Kabupaten yaitu Kabupaten Sleman di DI Yogyakarta dan Kabupaten Magelang, Kabupaten Boyolali Kabupaten Klaten di Jawa Tengah. Ancaman yang ada di Merapi ini dapat berpotensi di semua sektor wilayah antara lain ancaman primer yaitu awan panas, dan ancaman sekunder yaitu aliran lahar dingin serta ancaman tersier yaitu terjadinya kerusakan lingkungan, baik secara alamiah ataupun secara non alamiah akibat aktivitas manusia.

Talkshow-1
Acara Talkshow Radio di Radio Merapi Indah Magelang

Berawal dari terjadinya erupsi besar awan panas pada tahun 1994 di Dusun Turgo, Kabupaten Sleman yang mengakibatkan terjadinya bencana dengan korban 68 orang meninggal dunia, hal ini terjadi akibat dari lemahnya pengawasan dan kurangnya kesiapsiagaan baik dari masyarakat maupun pemerintah sehingga menjadikan suatu kerentanan yang dapat berisiko bencana. Mengingat ancaman Gunungapi Merapi sifatnya sektoral dan dapat mengancam di manapun, kapanpun di seputaran lereng Merapi, sehingga perlu adanya kesiapsiagaan bersama dalam menghadapi ancaman letusan Gunungapi Merapi terutama masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana III dan II. Belajar dari kejadian 1994 kemudian muncul kesadaran bersama antar masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana letusan Gunungapi Merapi khususnya KRB III dan KRB II untuk perlunya memahami tentang ancaman yang ada di wilayahnya serta membangun kesiapsiagaan bersama dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana letusan Gunungapi Merapi.


Talkshow-2
Narasumber Acara Talkshow Radio
 
Berbagai kebijakan pemerintah untuk pengurangan risiko bencana melalui Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) telah mengeluarkan Rencana Aksi Nasional tahun 2006 – 2009, yang mendorong setiap pihak baik pemerintah, masyarakat ataupun pemangku kepentingan lainnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan upaya pengurangan risiko bencana. Dengan momentum disahkannya UU No 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana (UU-PB) menjadikan suatu kewajiban bagi pemerintah pusat ataupun daerah untuk melakukan pengurangan risiko bencana di setiap wilayah yang masuk dalam kawasan rawan bencana.


Talkshow-3

Sampai saat ini kerjasama semua pihak telah terjalin dengan baik di 4 Kabupaten yang berada di seputaran Gunungapi Merapi terutama di level pemerintah dan masyarakat yang berada di kawasan rawan bencana III dan II di seputaran Gunungapi Merapi, dalam membangun kesiapsiagaan bersama di semua sektor. Apa yang sudah ada di masyarakat saat ini telah menjadi tolok ukur keberhasilan masyarakat dalam mengurangi kerentanan-kerentanan yang ada, dari waktu ke waktu telah menunjukkan peningkatan yang lebih baik dalam menjalankan tugasnya untuk mengurangi risiko bencana. Berbagai kegiatan-kegiatan yang merupakan rencana aksi daerah hingga rencana aksi kampung telah menjadi suatu kebutuhan bagi pemerintah dan masyarakat khususnya yang berada di kawasan rawan bencana sebagai upaya-upaya pengurangan risiko bencana.

Talkshow-4

Pentingnya peran semua pihak baik pemerintah, NGO, INGO, akademisi, praktisi dan masyarakat menjadi dasar yang kuat atas upaya-upaya pengurangan risiko bencana. Dalam eksistensinya sampai saat ini telah terbentuk Forum Merapi yang mewadahi semua pihak untuk bersama-sama mengimplementasikan mandat UU – PB di 4 Kabupaten sehingga pemerintah, masyarakat dan pemangku kepentingan lainnya memiliki peran dan tanggung jawab dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana di wilayahnya.


Talkshow-5
 
Dalam rangka penyebarluasan informasi publik tentang hal-hal yang telah dilakukan dan sedang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan pihak lainnya untuk pengurangan risiko bencana yang ada di Indonesia, khususnya di Kawasan Merapi, Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN "Veteran" Yogyakarta mengadakan serangkaian kegiatan talkshow dan diskusi publik yang dilakukan melalui media informasi radio di 4 Kabupaten yang ada di kawasan Gunungapi Merapi. Talkshow dan diskusi publik dengan tajuk acara "Revitalisasi Peran Lembaga-Lembaga, Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah" ini berlangsung pada tanggal 28,29 dan 30 Agustus 2008 pukul 16.00 s/d 16.30 WIB di Radio Merapi Indah 104.9 FM, dan rencananya akan diadakan juga di Radio RRI Pro 1 Jogja pada tanggal 8,9,10 September 2008 pukul 12.00 s/d 13.00 WIB. Dengan mendatangkan narasumber dari instansi-instansi terkait (Bappeda, Kesbanglinmas/Dinas P3BA, BPPTK, Dinas Kesehatan), akademisi (PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta), lembaga internasional (Oxfam GB) dan wakil masyarakat (PASAG Merapi).


Talkshow-6
 
Target yang ingin dicapai dari adanya kegiatan talkshow dan diskusi publik mengenai "Revitalisasi Peran Lembaga-Lembaga, Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah" ini antara lain: 1. masyarakat mengetahui upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang telah dan sedang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat di Indonesia, khususnya di kawasan rawan bencana letusan gunungapi Merapi, 2. masyarakat dapat berdiskusi secara langsung dengan lembaga-lembaga lokal dan non lokal, badan pemerintah dan masyarakat yang terlibat aktif dalam upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang telah dan sedang dilakukan di cluster Merapi, 3. adanya masukan dari semua pihak untuk upaya-upaya pengurangan risiko bencana yang lebih baik.


Talkshow-7

Kamis, 18 Juli 2013

Talkshow Radio di Klaten dan Boyolali



03.11.2008, rangka penyebarluasan informasi publik tentang hal-hal yang telah dilakukan dan sedang dilakukan oleh pemerintah, masyarakat dan pihak lain untuk pengurangan risiko bencana yang ada di Indonesia, khususnya di Kawasan Merapi, Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN "Veteran" Yogyakarta mengadakan serangkaian kegiatan talkshow/diskusi publik yang dilakukan melalui media informasi radio di 4 Kabupaten yang ada di kawasan rawan bencana letusan Gunungapi Merapi, yaitu Kabupaten Magelang, Sleman, Klaten dan Boyolali. Talkshow/diskusi publik ini mengambil tema "Revitalisasi Peran Lembaga-Lembaga, Pemerintah dan Masyarakat dalam Pengurangan Risiko Bencana di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah".
talkshow radio klaten
 Narasumber dari PSMB UPNVYk, Oxfam GB dan PASAG Merapi
pada acara talkshow radio di Radio RWK Klaten

Untuk Kabupaten Magelang dan Sleman acara talkshow telah berlangsung pada bulan Agustus dan September, disiarkan oleh Radio Merapi Indah (Kabupaten Magelang) dan RRI Pro 1 Jogja (Kabupaten Sleman). Sedangkan di Kabupaten Klaten, acara talkshow diudarakan oleh Radio Swara Sumbing Wijayakusuma (RWK) Klaten pada tanggal 20 - 22 Oktober 2008 pukul 16.00 - 17.00 WIB, dengan mendatangkan narasumber dari BPPTK, Bappeda Kabupaten Klaten, Kantor Kesbanglinmas Kabupaten Klaten, PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta, Oxfam GB, PASAG Merapi Kabupaten Klaten.

talkshow radio boyolali
 Talkshow radio di Radio Karysma FM Boyolali dengan narasumber
dari PASAG Merapi, BPPTK dan PSMB UPNVYk

Untuk Kabupaten Boyolali, acara talkshow ini disiarkan melalui Radio Karysma FM pada tanggal 29 - 31 Oktober 2008 pukul 10.00 - 11.00 WIB, dengan narasumber dari BPPTK, Bappeda Kabupaten Boyolali, PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta dan PASAG Merapi Kabupaten Boyolali.

Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas


SLEMAN - Sejak tahun 2006 wilayah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dilanda beragam bencana alam baik yang sifatnya berskala kecil maupun besar. Tahun 2006 adalah bencana alam yang besar dan belum pernah terjadi sebelumnya yaitu gempa bumi yang melanda wilayah DIY bagian selatan tepatnya Bantul.

Selain itu, di wilayah utara DIY ancaman bencana datang dari erupsi gunung Merapi, dimana tahun 2010 kemarin meletus dengan menelan korban lebih dari ratusan jiwa. Selain ancaman bencana diatas bencana seperti kekeringan, longsor, angin kencang dan banjir yang sempat melanda wilayah Kota Yogyakarta awal tahun 2012 harus siap dihadapi karena wilayah DIY merupakan wilayah merah bencana (ring of fire).

Berdasarkan pengalaman tersebut, penanggulangan bencana mulai dari tanggap darurat, rekonstruksi dan rehabilitasi tidak hanya tugas pemerintah saja tetapi merupakan tugas bersama antar elemen masyarakat khususnya masyarakat yang daerahnya wilayah rawan bencana.

Lembaga Kemanusiaan Nasional PKPU dalam rangka menyiapkan masyarakat yang siap dan tangguh dalam penanggulangan bencana menggelar acara Training for Trainer (TFT) Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Komunitas (PRBBK) di Bumi Perkemahan Wonogondang, Umbulharjo, Cangkringan pada Sabtu-Minggu (21-22/4/2012).

Kegiatan TFT ini diikuti oleh 18 peserta sebagai perwakilan dari tiga dusun di Desa Argomulyo yaitu Dusun Mudal, Dusun Gayam, dan Dusun Gadingan. Peserta mendapatkan materi tentang PRBBK dari tim Disaster Risk Management (DRM) PKPU, BPBD Kabupaten Sleman, BPPTK Propinsi DIY, PASAG Merapi, dan PMI Kabupaten Sleman.

Muhammad Jawad, selaku tim DRM PKPU menyampaikan materi tentang “Manajemen Resiko Kebencanaan”. “Dalam menghadapi sebuah bencana yang diperlukan adalah kesiapan sebelum bencana datang dan kesiapan secara mental bahwa kita berada dilokasi rawan bencana,” ujar Jawad, saat menyampaikan materinya. Selain itu, tim DRM PKPU juga menyampaikan kegiatan PKPU dalam penanggulangan bencana dan pelatihan yang pernah dilakukan di wilayah Indonesia.

Sementara itu, tim dari BPBD Sleman, BPPTK dan PASAG Merapi menyampaikan tentang potensi bencana yang mengancam wilayah DIY serta mengajak peserta untuk membuat peta jalur evakuasi jika suatu saat terjadi bencana. Manfaat pembuatan peta ini sebagai bentuk antisipasi terpencarnya warga saat bencana datang sehingga pengungsian sudah terpusat.

Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya menerima materi secara teori tapi juga praktek. Seperti dalam materi yang disampaikan oleh tim dari PMI Kabupaten Sleman, peserta diajak untuk mempraktekan saat menolong korban yang terkena bencana, mulai dari pemberian napas buatan hingga menolong korban yang terkena patah tulang dan dievakuasi ke armada ambulan. Dalam praktek ini dibutuhkan kerjasama antar peserta, kecepatan dan ketepatan peserta.

Agus Triyono, staf bidang PRBBK PKPU Yogyakarta mengatakan pelatihan ini diadakan untuk memberikan kapasitas kepada peserta agar mempunyai kemampuan untuk menjadi fasilitator di wilayahnya. Selain itu pelatihan ini juga bertujuan untuk menyiapkan masyarakat yang siaga bencana.

“Ini adalah awalan dari kami semoga kedepannya setelah dilakukan pelatihan-pelatihan rutin dan simulasi tentang kebencanaan dapat mengurangi jumlah korban jiwa akibat bencana yang datang,” ungkap Agus Triyono. (PKPU/Solihin/Agus/Yogyakarta)

22,2 Km Jalur Evakuasi Merapi Rusak Berat


MAGELANG, Kamis, 5 Maret 2009 | 20:10 WIB — Sepanjang 22,2 kilometer jalan yang termasuk dalam jalur evakuasi bencana letusan Merapi di Kabupaten Magelang, kini berada dalam kondisi rusak. Sepanjang 10,3 kilometer di antaranya bahkan nyaris tidak bisa dilalui karena berada dalam kondisi rusak berat, penuh lubang, dan berbatu-batu.
"Dalam kegiatan simulasi bencana yang berulang kali kami lakukan, kerusakan jalan yang cukup parah tersebut pada akhirnya membuat proses evakuasi pengungsi menuju TPS (tempat penampungan sementara) dan tempat penampungan akhir (TPA) berjalan sangat lamban," kata Ketua Umum Paguyuban Siaga Merapi (Pasag) Merapi Kabupaten Magelang, Purwo Widodo, Kamis (5/3).
Dalam simulasi yang sudah dilakukan, untuk membawa pengungsi dari Desa Krinjing, Kecamatan Dukun, menuju TPA di Kecamatan Muntilan yang berjarak sekitar 15 kilometer saja membutuhkan waktu 1,5 jam. Padahal, mengingat Desa Krinjing yang termasuk dalam kategori sangat rawan terkena bencana Merapi, semestinya waktu yang diperlukan untuk mengangkut pengungsi tidak lebih dari setengah jam.
Berdasarkan data yang dihimpun Badan Kesatuan Bangsa, Perlindungan Masyarakat, Politik, dan Penanggulangan Bencana Kabupaten Magelang, kerusakan jalan ini tersebar di enam titik di Kecamatan Dukun, Srumbung, dan Muntilan. Di jalur Muntilan-Talun, kondisi jalan rusak berat mencapai 1,2 kilometer. Kondisi rusak berat juga terjadi sepanjang 0,4 kilometer di jalur Mranggen Polengan, dan 3,5 kilometer di sepanjang jalur Muntilan-Keningar. Jalur rusak berat terpanjang, empat kilometer, terdapat di jalur Ketunggeng-Pucanganom. Kerusakan parah juga terjadi pada jalur Dukun-Demo, sepanjang 1,2 kilometer.
Jalan sepanjang 11,9 kilometer yang termasuk dalam kategori rusak ringan dan sedang tersebar di jalur Krakitan-Jerukagung, Kecamatan Srumbung, sepanjang 2,65 kilometer; di jalur Mranggen-Polengan, sepanjang 0,5 kilometer; dan Muntilan-Talun, 2,75 kilometer. Selain itu, kerusakan skala ringan juga terdapat di jalur Ketunggeng-Pucanganom, sepanjang 4,5 kilometer.
Di luar data tersebut, Purwo mengatakan, masih terdapat lagi jalur rusak berat lainnya, yang belum termasuk dalam pendataan. Pada jalur Desa Krinjing menuju TPS di Desa Dukun, kerusakan terjadi sepanjang 10 kilometer, dan jalur Desa Keningar menuju TPS di Desa Dukun, sepanjang 7 kilometer.
Kerusakan jalan ini, menurut Purwo, sudah dilaporkan oleh warga kepada pemerintah desa masing-masing, untuk selanjutnya dilaporkan ke Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Magelang. Namun, sejauh ini yang sudah ditangani oleh Pemkab Magelang hanya berkisar 10 persen dari total kerusakan jalan yang terjadi.
"Karena penanganan belum optimal, maka untuk sementara ini, kerusakan jalan yang terjadi di jalan-jalan dusun, ditangani secara swadaya oleh warga setempat," ujar Sapto, salah seorang warga Kecamatan Dukun.
Selain itu, kerusakan juga terjadi pada 16 jembatan yang berada di daerah rawan bencana Merapi. Jembatan yang menghubungkan daerah Tlatar-Gowok-Sabrang, Kecamatan Dukun, bahkan putus, dan hingga sekarang belum juga diperbaiki.
Heryanto, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Magelang, mengatakan, penanganan kerusakan di jalur evakuasi merupakan kegiatan rutin dilakukan setiap tahun. "Namun, berapa panjang jalur evakuasi yang dapat diperbaiki tentu saja masih harus menyesuaikan dengan jumlah dana yang tersedia dalam APBD," katanya.
Tahun ini, dana APBD saja belum ditetapkan. Dengan begitu, pihaknya pun belum bisa melakukan kegiatan perbaikan jalan.

Rabu, 17 Juli 2013

PREMAN MERAPI


Lupa tahun Tak Berarti Melupakan sejarah
PASAG MERAPI,RADIO KOMUNITAS LINTAS MERAPI,JALIN M ERAPI,FORUM MERAPI
Lupa tahu,dan tanggal tapi aku masih sangat ingat sejarah Pasag merapi Klaten,semula ada namanya Kapalla yang mengadakan pelatihan PPGD di Desa tegalmulyo,saya yang mendapatkan undangan,tetapi karena saya kira saat itu adalah kegiatan GAM (gabungan Anak Merapi) yang pada saat itu saya secara pribadi hanya mengenal rombongan pendaki yang suka mendem (minum-minuman keras)maka saya menipu mas Mulyono (banjo) dan mas Bendhu (maryanto),untuk menghadiri kegiatan tersebut di tegalmulyo,alhasil mereka bercerita tentang kegiatan tersebut “lho dudu gam To sing ngenengke” (lho bukan Gam to yang mengadakan kegiatan, dalam batin saya ada sedikit menyesal karena kegiatanya adalah PPPK (saya artika saatitu),karena saat itu saya dan adik ipar saya sriwidagdo yang dapat undangan,kemudian beberapa bulan saya saat di rumah mertua kedatangan seseorang berwajah sangar (garang) gondrong,rambut jarang penampilan seperti gento(Preman), dating ke rumah mertuaku dan bercerita tentang organisasi dan yang sudah ada di merapi kabupaten magelang,sebaiknya sebagai warga merapi itu bagaiman dan ,,bla.bla.bla…,.. aku semakin tertarik dengan ide tersebut ,maka saat itu di adakan pertemuan 3 Desa di pesanggrahan PB X , tempat wisata deles indah ,lupa siapa yang hadir tetapi ,kira2 yang dibahas adalah tentang nama organisasi,kemudian menamakan Sabug Merapi, setelah itu kemudian mengadakan pelatihan PPGD-PPGD,. Dan pertemuan2 lanjutan tentang kegiatan masyarakat,karena saya dan adik ipar banyak kegiatan di kampung maka ,setiap pertemuan yang sering hadir adik kandung saya ,Sarjino,Mulyono,atau bendhu,pelatihan berikutnya sudah ke kalitengah (pak Semi),Tanggung, hingga ke Kinahrejo (pak Sambi ),dll sampai pertemuan-pertemuan berikutnya di Kaliurang, saat itu sudah sering bersama pak suroso (pak Lurah) Sidorejo,Pak Jainu,dan lain-lainya,anggota dari kegiatan tersebut semakin banyak,tetapi masalah selalu ada,dan kita selesaikan bersama, misalnya nama Sabug Merapi menjadi Pasag Merapi (alas an tidak saya sampaikan disini), pertemuan-pertemuan berikutnya sudah ke Hotel di kaliurang (nama lupa), dilanjutkan ke hotel Joyo kaliurang, (hingga sekarang paling sering di pakai), di hotel joyo itulah kami warga merapi sering di pertemukan dengan banyak teman yang sama terancam bencana, beda lokasi dan beda ancaman, Misalnya di kulonprogo,Sayung Demak,Gunung Kidul,sampai beberapa teman dari berbagai propinsi, di situ pula mengenal yang namanya Eko Teguh Paripurno,Mas Giri,Sofyan Eyang, Aris,BERSAMBUNG....

oleh : Sukiman

Pelatihan Fasilitator Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)



Fasilitator PSMB
 Fasilitator dari PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta

Merapi sebagai sebuah ancaman di satu sisi telah mengajarkan kepada kita untuk senantiasa siaga dalam segala bidang; bagaimana mempersiapkan sarana dan prasarana, bagaimana mempersiapkan segala sesuatu yang bersifat non fisik menjadi sebuah kewajiban yang harus dijalankan. Untuk mempersiapkan segala sesuatu yang bersifat fisik jauh lebih mudah, walaupun banyak yang menilai butuh biaya yang tinggi. Namun pada kenyataannya segala sesuatu yang bersifat non fisik jauh lebih bermanfaat, baik kegiatan membangun kesadaran, sikap, perilaku, peningkatan skill dan kemampuan yang dilakukan secara terus menerus dan kalau dihitung membutuhkan sejumlah dana yang sangat besar, meski ketika dinilai dari hasilnya tidak bisa dirasakan dan dilihat secara langsung.

Instruktur dari BAKER PGDM
 Instruktur dari BAKER PGDM sedang memberikan materi

Membangun kegiatan non fisik harus dilakukan di semua aspek. Tidak hanya yang berkaitan dengan kegunungapian saja, urusan pengungsian saja, tetapi juga berkenaan dengan skill dan kemampuan yang hendaknya dimiliki masyarakat dalam hal Penanggulangan Penderita Gawat Darurat. Mengingat bahwa urusan medis di saat terjadi ancaman dan bencana bukan hanya menjadi urusan petugas medis semata. Dengan demikian bukan berarti kita harus menciptakan sarana dan prasarana medis di masyarakat, tetapi lebih kepada bagaimana membangun sikap dan perilaku medis di masyarakat, serta yang utama adalah membangun kesepahaman antara masyarakat dan pelaku medis.

Praktek pembalutan
 Praktek pembalutan oleh peserta Pelatihan Fasilitator PPGD

Untuk mencapai angan-angan tersebut; yaitu bagaimana masyarakat bertambah kemampuannya di bidang medis terutama pemberian pertolongan pertama, serta membangun sinergi antar pihak yang berkaitan dalam bidang medis, yang selanjutnya di kemudian hari masyarakat mampu menularkan ilmunya kepada masyarakat lain; maka PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta bekerjasama dengan Oxfam GB dan BAKER PGDM 118 mengadakan kegiatan "Pelatihan Fasilitator Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD)".

Instruktur memberikan penjelasan tentang RJP sebelum praktek
Instruktur dari BAKER PGDM sedang memberikan penjelasan
tentang RJP sebelum praktek 

Kegiatan Pelatihan Fasilitator Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) ini memiliki tujuan antara lain:

  • meningkatkan kemampuan peserta tentang PPGD
  • meningkatkan kemampuan fasilitasi peserta kegiatan
  • membentuk kerangka tim fasilitator PPGD Desa
  • membuat modul PPGD Desa

Praktek transportasi
Peserta melakukan praktek transportasi 

Kegiatan Pelatihan Fasilitator Penanggulangan Penderita Gawat Darurat dilaksanakan dalam dua angkatan, yaitu Angkatan I pada tanggal 26 - 28 Juli 2008 dan Angkatan II pada tanggal 2 - 4 Agustus 2008, bertempat di Wisma Joyo, kompleks wisata Kaliurang, Sleman. Angkatan I diperuntukkan bagi peserta dari Kabupaten Sleman, Klaten dan Boyolali serta beberapa peserta dari PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta dan Kappala Yogyakarta, dengan jumlah peserta sebanyak 23 orang. Sedangkan untuk Angkatan II diperuntukkan bagi peserta dari Kabupaten Magelang dan beberapa peserta dari PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta, ASC, Kappala Yogyakarta, Kappala Trenggalek dan Mapalista Yogyakarta, dengan jumlah peserta sebanyak 40 orang. Untuk peserta yang berasal dari PASAG Merapi yang merupakan perwakilan Desa, merupakan peserta yang sebelumnya pernah mengikuti pelatihan PPGD tingkat Desa atau pernah mengikuti ToT PPGD pada tahun 2003. Untuk fasilitator selain dari PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta, juga instruktur dari institusi resmi pemerintah yang bersertifikat yaitu BAKER PGDM.

Gladian
 Peserta melakukan gladi lapang (gladian)

Adapun materi yang didapatkan para peserta Pelatihan Fasilitator Penanggulangan Penderita Gawat Darurat (PPGD) meliputi materi tentang manajemen kegawatdaruratan, pengenalan luka dan penanganannya, perdarahan, patah tulang, bantuan hidup dasar, transportasi dan evakuasi, pembalutan dll. Disamping materi, peserta juga melakukan praktek transportasi, pembalutan, resusitasi jantung paru (RJP) dan gladian, serta praktek fasilitasi. Karena pada Pelatihan ini peserta akan mendapatkan sertifikat yang dikeluarkan oleh BAKER PGDM, maka penguasaan peserta atas materi yang diberikan serta kemampuan peserta mempraktekkan teori yang telah didapatkan ikut dinilai.

Praktek fasilitasi
Praktek fasilitasi oleh peserta

FORUM MERAPI : Pelatihan Fasilitator Penanggulangan Bencana



Pelatihan Fasilitator
Pemahaman akan penanggulangan bencana yang tepat menjadi kebutuhan mendesak saat ini. Penetapan UU 24 tahun 2007 mengenai penanggulangan bencana mengatur bahwa setiap pemerintahan daerah harus memiliki badan penanggulangan bencana serta peraturan pemerintah dalam Penanggulangan Bencana. Sebaliknya pihak masyarakat di kawasan rawan bencanapun harus memiliki kesadaran berperan aktif dalam kegiatan pengurangan risiko bencana, meskipun dalam UU 24 tahun 2007 belum menyinggung tetek bengek Kewajiban yang melekat di masyarakat untuk mensukseskan program penanggulangan bencana.
Dalam proses membudayakan pengurangan risiko bencana di kawasan rawan bencana letusan gunungapi, Forum Merapi, organisasi dari perhimpunan masyarakat dan pemerintah Kabupaten Klaten, Boyolali, Magelang, Sleman bersama para pihak yang memiliki mandat dalam pengurangan risiko bencana menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Fasilitator Wajib Latih Penanggulangan Bencana (WLPB) Letusan Gunungapi yang di selenggarakan dari 12 – 15 Maret 2008, wisma Joyo, Kaliurang, Sleman.

Sesuai dengan mandatnya, Forum Merapi dibentuk guna menghimpun kapasitas di tingkat pemerintahan lingkar Merapi bersama-sama dengan masyarakat melaksanakan aksi pengurangan risiko bencana secara sinergis dan terpadu. Tujuan pelatihan menghasilkan fasilitator-fasilitator yang diharapkan nantinya mampu memfasilitasi 28 desa daerah rawan bencana Gunung Merapi dalam kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana letusan gunung Merapi.

Peserta pelatihan fasilitator ini berasal dari kalangan pemerintah dan non pemerintah. Kalangan pemerintah diwakilkan dari tiap kabupaten yaitu Kabupaten Sleman, Magelang, Boyolali dan Klaten. Sementara pihak non pemerintah berasal dari masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana dengan ketentuan sebagai berikut: 1) Sanggup mengikuti seluruh rangkaian acara pelatihan dari awal sampai akhir kegiatan, 2) Sanggup bekerjasama dalam tim serta melaksanakan mandat sebagai fasilitator Wajib Latih PB Gunungapi di desa-desa KRB 1 Letusan Gunung Merapi.

Dalam pelatihan kali ini peserta lebih diajak untuk mengerti bagaimana menjadi seorang fasilitator dengan fokus ancaman letusan gunungapi. Untuk itu peserta pelatihan dibekali materi-materi pendukung berupa Bagaimana Memulai Pelatihan, Mengenal Gunungapi dan Ancamannya, Menanggulangi Bencana, Mengurangi Risiko Bencana Letusan Gunungapi serta Prosedur Tetap Penanggulangan Bencana Letusan Gunungapi.

Program pelatihan fasilitator ini memiliki harapan baru membentuk sebuah kekuatan pendukung program pemerintah maupun non pemerintah dalam mereduksi bencana letusan gunung Merapi. Dengan adanya tenaga fasilitator tersebut juga akan mempermudah terjalinnya hubungan kordinatif yang baik antar pemerintah, lembaga non pemerintah maupun masyarakat dalam menyampaikan kampanye aksi siap siaga di tingkat komunitas agar tidak terjadi aksi tumpang tindih yang mubadzir. Makna lain dari kegiatan inipun berdampak adanya pengakuan eksistensi pihak pemerintah selaku pemegang mandat utama penanggulangan bencana di daerahnya masing-masing.

Tindak lanjut dari kegiatan ini diharapkan akan adanya pelatihan-pelatihan di tingkat masyarakat kawasan rawan bencana (KRB) 1 secara berkesinambungan. Harapannya melalui penyampaian pengetahuan secara terus menerus akan menciptakan kebiasaan masyarakat siap siaga. Kemudian menyatu dalam nafas kehidupan masyarakat lereng Merapi menjadi budaya siap siaga yang hidup harmoni berdampingan dengan gunung Merapi. Seperti yang di sabdakan Joyoboyo berabad-abad silam ”Sak beja-bejane wong lali, isih beja sing eling lan waspada”-FC-

Sumber: di www.psmbupn.org

Gladian Bersama PASAG Merapi dan Pusbankes 118


Dengan disahkannya Undang-Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, maka seharusnya penanggulangan bencana di Indonesia semakin baik, dalam artian terjadi perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana dengan semakin meminimalkan risiko bencana, semakin optimal dan efisien dalam penggunaan dana, semakin jelas dalam pembagian peran serta semakin menguatnya kapasitas semua pihak.

Salah satu roh dari UU No. 24 tahun 2007 adalah menekankan bahwa pemerintah bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana sebagai kewajibannya untuk melindungi peri kehidupan masyarakat dan bangsa Indonesia. Selain itu roh yang tak kalah penting adalah bagaimana Undang-Undang ini mendorong terciptanya sistem penanggulangan bencana berbasis masyarakat (CBDM = Community Based Disaster Management) menjadi pilihan yang hendaknya dipahami semua pihak.

Tanggung jawab pemerintah di satu sisi, dengan kewajiban masyarakat di sisi lainnya, merupakan sebuah perpaduan yang indah apabila dilakukan dengan benar. Karena pada dasarnya penanggulangan bencana menjadi tanggung jawab bersama dengan berbagi peran sesuai tugas, wewenang, kemampuan, dengan menghargai kesetaraan, koordinasi dan satu tujuan.

Memang pada kenyataannya masih banyak dijumpai tumpang tindih kewenangan, pemahaman dan cara pandang dalam penanggulangan bencana. Pemerintah merasa dirinya yang paling bisa, mempunyai kekuasaan dan pendanaan, serta menganggap masyarakat harusnya hanya menurut, sebagai obyek dan jangan sok tahu. Di sisi lain, masyarakat menganggap pemerintah bekerja lamban, bekerja hanya bila ada duitnya, korup dan merasa dirinya paling faham tentang Merapi dan lain sebagainya.

Namun hendaknya ke depan bukan lagi mencari siapa yang salah, tetapi mencari dimana letak kesalahan yang ada, untuk selanjutnya dilakukan pembenahan. Andaikata semua berjalan sesuai dengan tugas dan kemampuannya, menjadikan peran dan tanggung jawab yang harus diemban menjadi lebih ringan.

Departemen Kesehatan dalam penanggulangan bencana telah membentuk suatu sistem Brigade Siaga Bencana, dimana di dalamnya terdapat pembagian peran antara petugas kesehatan baik di tingkat Rumah Sakit maupun Puskesmas, pihak pemerintah di tingkat Kabupaten dan Kecamatan, serta pihak ketiga yakni masyarakat di daerah rawan bencana. Dengan sistem ini diharapkan penanggulangan bencana khususnya di bidang kesehatan dapat optimal.

Melihat latar belakang tersebut maka perlu dijalin kebersamaan antara petugas kesehatan dengan masyarakat, agar dapat saling mengenal dan mengukur kemampuan untuk selanjutnya menggabungkan dua kekuatan tersebut menjadi satu kesatuan yang harmonis. Salah satu perwujudannya adalah dengan melaksanakan kegiatan Gladian Bersama Pasag Merapi dan Pusbankes 118. Kegiatan berupa kemah bersama selama dua hari satu malam (14 - 15 Juni 2008) ini diikuti oleh sekitar 250 peserta yang terdiri dari Pusbankes 118 (yang merupakan gabungan dari Rumah Sakit-Rumah Sakit di DIY), Pasag Merapi Kabupaten Klaten, Sleman, Magelang dan Boyolali, serta unsur lain (LSM dan media). Mengambil lokasi di areal obyek wisata Deles Indah serta di pemukiman sekitar lokasi wisata, kegiatan ini diisi dengan diskusi konsep CBDRM dan konsep BSB, pelatihan PPGD dan gladi lapang.

Diharapkan dengan adanya kegiatan ini dapat menambah pengetahuan dan kemampuan di bidang penanggulangan bencana berbasis masyarakat serta penanggulangan penderita gawat darurat. Disamping itu juga menjalin kesepahaman antara masyarakat dan petugas kesehatan dalam melakukan penanggulangan bencana, serta membuat pola koordinasi antara masyarakat dan petugas kesehatan dalam penanggulangan bencana khususnya yang terkait dengan hal kegawatdaruratan.

Shooting "Angkringan" Pekan Hari Peringatan Pengurangan Risiko Bencana Sedunia


Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2001 telah menetapkan bahwa setiap Rabu kedua bulan Oktober diperingati sebagai Hari Pengurangan Risiko Bencana (International Day for Disaster Reduction) dan diperingati secara serentak di seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran bagi semua pihak akan pentingnya pengurangan risiko bencana.

Angkringan-1
 Shooting "Angkringan" TVRI Jogja, 19 September 2008

Dengan mengambil momentum tersebut, Pusat Studi Manajemen Bencana (PSMB) UPN "Veteran" Yogyakarta melaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka penyebarluasan informasi publik tentang pengurangan risiko bencana di Indonesia khususnya di DI Yogyakarta dan Jawa Tengah dalam tajuk acara "Pekan Hari Peringatan Pengurangan Risiko Bencana Sedunia".

Angkringan-2
 Shooting "Angkringan" dengan narasumber dari PASAG Merapi

Salah satu acara yang diselenggarakan dalam kaitannya dengan Pekan Hari Peringatan Pengurangan Risiko Bencana Sedunia ini adalah talkshow televisi/diskusi "Angkringan" di TVRI Jogja, yang pengambilan gambarnya telah dilakukan pada tanggal 19 September 2008 yang lalu. Diskusi Angkringan ini mengambil topik CBDRM/pengurangan risiko bencana di level masyarakat dan peran semua pihak baik pemerintah, lembaga, akademisi dan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana, dengan mendatangkan narasumber dari BPPTK, PSMB UPN "Veteran" Yogyakarta dan PASAG Merapi. Rencananya acara Angkringan ini akan disiarkan di TVRI Jogja pada tanggal 11 dan 18 Oktober 2008.

Angkringan-3

PELATIHAN PRA ( PARTICIPATORY RISK APPRAISAL / KAJIAN RISIKO PARTISIPATIF )


     Salah satu kwadran hubungan antara bencana dan pembangunan adalah bencana dapat memundurkan pembangunan. Bencana dapat menghilangkan semua aset yang selama ini dibangun dan dikembangkan baik aset ekonomi, sosial, fisik, alam dan manusia. Oleh karena itu undang-Undang No.24/2007 mengamanatkan pentingnya penyelenggaraan penanggulangan bencana yang sistematis, utuh dan menyeluruh. Aspek-aspek penanggulangan dan perlindungan pada aset, bukan hanya bertumpuh pada pengamanan aset manusia saja, tetapi harus mencakup juga seluruh aset-aset yang lain. Pemikiran diatas, mengilhami PSMB UPNVY pada beberapa bulan yang lalu melakukan PRA pengamanan aset masyarakat di beberapa desa di sekeliling gunung Merapi. Hasilnya mampu mendorong beberapa dusun untuk menemukenali aset-aset yang berisiko jika terjadi letusan Gunung Merapi. Bahkan ada dua dusun yaitu jamburejo magelang dan mriyan boyolali, secara mandiri mampu menindaklanjuti dengan rencana aksi pengamanan dan pengembangan aset. Capaian diatas menjadi modal dasar yang kuat bagi pengembangan masyarakat yang bertumpuh pada keswadayaan, kemandirian dan ketangguhan masyarakat. Namun demikian, ada proses yang perlu disempurnakan. Pada PRA yang terdahulu sangat bergantung pada fasilitator dari PSMB UPNVY untuk mengarahkan seluruh proses sampai dengan rencana aksi.

               Berangkat dari pemikiran diatas, perlu adanya peningkatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan PRA, sehingga masyarakat menjadi aktor mandiri yang mampu melakukan kajian sendiri untuk menggali, menemukenali aset dan merencanakan aksi secara mandiri. Pelatihan di adakan di Wisma Joyo kawasan Kaliurang Sleman. Selama 3 hari pelatihan peserta diharapkan mampu menjadi fasilitator dengan menggunakan alat – alat PRA, memahami prinsip dasar PRA, mampu menggunakan alat – alat PRA, dan menemukenali aset yang berisiko serta mampu menformulasikan rencana aksi.

              Untuk mengasah tentang pelatihan yang telah diberikan maka para peserta melakukan PRA yang akan dilakukan di 11 dusun. 8 dusun dilakukan di seputar Gunung Merapi dan 3 dusun lainnya dilakukan di Samigaluh Kulonprogo, Cilacap, serta Purwokerto.







PELATIHAN FASILITATOR PEREMPUAN




              Indonesia dikenal sebagai wilayah yang rawan bencana. Berbagai ancaman ada di Indonesia baik ancaman hidrologis maupun geologis, baik yang bersifat natural hazard maupun yang disebabkan oleh manusia. Bencana tidak tidak pernah diskriminatif, tapi penyikapan terhadap ancaman dan bencana dibanyak belahan dunia masih sangat diskriminatif dan marginalisasi terhadap peran perempuan dalam penanggulangan bencana. Alih-alih sensitive gender dalam manajemen bencana, terdapat banyak teologi, kultur social ekonomi dan politik yang justru menghambat peran perempuan untuk terlibat dalam kegiatan penanggulangan dan pengurangan risiko bencana. Hal ini berdampak pada sebagian besar korban dari bencana adalah perempuan karena memiliki kerentanan yang tinggi dibanding laki-laki. Kondisi ini dibuktikan oleh hasil studi pada 141 negara yang mendapati lebih banyak perempuan yang meninggal dibanding laki-laki karena disebabkan oleh ketidaksetaraan status social ekonomi diantara mereka (Newmayer and Plumper,2007). Terdapat banyak kasus budaya dan social yang melemahkan perempuan ketika berhadapaan dengan natural hazard. Bias gender karena struktur ekonomi, social, budaya dan teologi yang menambah kerentanan saat berhadapan dengan ancaman (UNISDR, UNDP and UICN,2009), (Earson, 2000).
                 Realitas diatas menyadarkan banyak kalangan untuk berpikir kritis reflektif dan bertindak realitalistik dalam penanggulangan bencana dengan mengikutsertakan peran perempuan dan menggunakan gender mainstreaming dalam manajemen bencana. Gender mainstrieming dalam pengurangan risiko bencana berarti mendorong perempuan untuk memiliki posisi kunci dalam manajemen penanggulangan bencana. Hal ini sejalan dengan kebijakan kerangka Hyogo Framework 2005,deklarasi manila tentang aksi global untuk gender, perubahan iklim dan pengurangan risiko bencana.
              Berdasar pemikiran diatas, penting untuk membuat kegiatan yang mendorong peningkatan kapasitas perempuan dan mengurangi kerentanan dalam menghadapi ancaman. Disinilah relevansi dan urgensi program sensitive gender untuk pengurangan risiko bencana di kawasan Gunungapi Merapi.
             Tujuan utama dari penyelenggaraan program ini adalah : Meningkatkan pemahaman perempuan mengenai karakter ancaman, kapasitas dan kerentanan terkait dengan ancaman gunungapi Merapi yang sensitive gender, Meningkatkan pemahaman mengenai S.O.P penanggulangan bencana gunungapi Merapi yang sensitive gender,Meningkatan kapasitas partisipan tentang teknik fasilitasi, Terbentuknya kelembagaan penanggulangan bencana untuk perempuan kawasan gunungapi Merapi. Dalam pelaksanaan pelatihan, materi pelatihan merupakan unsur penting dalam menunjang keberhasilan program pelatihan ini; adapun materi yang akan dilatihkan antara lain: Mengenal Gunungapi Merapi, Pengkajian ancaman, Pengkajian kerentanan sensitive gender, Pengkajian kapasitas sensitive gender, Kedaruratan, S.O.P, Rencana aksi, Teknik fasilitasi, Simulasi.

RENCANA STRATEGI PAGUYUBAN SIAGA MERAPI ( PASAG MERAPI )





        Bertempat di Wisma joyo kawasan wisata Kaliurang kabupaten Sleman, paguyuban siaga merapi atau lebih dikenal dengan nama pasag marapi, mengadakan rencana strategi atau renstra yang di fasilitasi oleh Pusat studi manajeman bencana UPN "Veteran" Yogyakarta. Kegiatan dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 13 – 15 Mei 2009. Kegiatan ini kedepan mengharapkan pasag merapi lebih berperan lagi dalam pengurangan risiko bencana, baik di merapi maupun di kawasan lain di luar merapi.


Peserta renstra Pasag Merapi

              Dalam renstra itu pengurus masa bhakti 2005 - 2009 memberikan laporan pertanggungung jawaban. Di mana dalam laporan ketua pasag 2005 - 2009, bahwa pasag telah melakukan banyak kegiatan pengurangan risiko bencana antara lain : menjadi fasilitator wajib latih penangulangan bencana gunungapi, menjadi fasilitator PPGD dan menjadi relawan pada saat gempa di Jogjakarta. Secara keseluruhan peserta renstra menerim laporan pertanggungjawaban pengurus.

               Setelah laporan pertanggungjawaban pengurus 2005 - 2009 berakhir maka dilakukan pemilihan pengurus baru masa bhakti 2009 – 2014. Dalam pemilihan yang dilakukan oleh sekitar 50 orang anggota pasag merapi yang hadir dalam pemilihan tersebut, maka tepilihlah pengurus pasag merapi baru masa bhakti 2005 – 2009 sebagai berikut :


Struktur Organisasi Paguyuban Siaga Merapi ( Pasag Merapi ) 2009 – 2014 :
1. Ketua Umum               : Purwo Widodo
2. Sekretaris                     : Totok Hartanto
3. Bendahara                   : Sudirman
4. Kordinator Wilayah  :
     Sleman                          : Siyono
     Klaten                            : Bendo / Ragil
     Boyolali                         : Sukarno
     Magelang                      : Suwaji



LAPORAN AKTIVITAS GUNUNG MERAPI TANGGAL 8-14 Juli 2013


 8-14 Juli 2013
  Cuaca teramati cerah pada pagi hari, kadang-kadang sore dan malam hari. Hujan masih terjadi walaupun intensitasnya tidak merata. Angin di pos-pos pengamatan pada umumnya berhembus tenang, perlahan, hingga sedang. Asap solfatara berwarna putih tipis hingga tebal, dominan putih tebal dengan tekanan lemah condong ke arah Barat Daya. Tinggi asap maksimum 300 m tercatat di Pos Selo dan Babadan pada tanggal 8 Juli 2013. Asap solfatara berwarna putih tebal dengan tinggi 200 m terekam di stasiun CCTV Deles pada tanggal 12 Juli 2013 pukul 08.00 WIB (Gambar 1). Dari gambar 1 terlihat juga morfologi puncak Merapi tidak mengalami perubahan.
 
 
Gambar 1. Menunjukkan asap solfatara berwarna putih tebal dengan tinggi 200 m terekam di stasiun CCTV Deles pada tanggal 12 Juli 2013 pukul 08.00 WIB dan morfologi Puncak Merapi tidak mengalami perubahan. 
 
  Pada minggu ini, kegempaan yang terjadi di G. Merapi di dominasi oleh gempa guguran sebanyak 15 kali, diikuti gempa MP sebanyak MP 5 kali, tektonik 9 kali dan VB 1 kali. Berdasarkan intensitas kegempaan, gempa-gempa yang terjadi masih menunjukkan jumlah yang sangat kecil dan masih dalam batas normal. Gambar 2 menunjukkan statistik kegempaan selama Januari hingga Juni 2013.
 
 
 Gambar 2. Statistik Kegempaan G. Merapi Bulan Januari  – Juli 2013
 
 Data pengukuran EDM (Electronic Distance Measurement) di G. Merapi belum menunjukkan adanya perubahan baik inflasi maupun deflasi tetapi masih berfluktuasi dalam batas normal. Data EDM di Pos Selo bervariasi antara  + 2 mm hingga – 2 mm, Pos Babadan sebesar +6 mm hingga -3 mm,  dan Pos Kaliurang sebesar +11 mm hingga – 9 mm. Secara umum, perubahan jarak antara titik pengukuran EDM dan reflektor sebesar kurang dari 0,1 m maka  deformasi G. Merapi masih dalam ambang batas normal. Hasil pengukuran EDM di Pos Selo, Jrakah, Babadan dan Kaliurang terlihat pada Gambar 3.

 
 
Gambar 3. Hasil pengukuran EDM Pos Kaliurang, Babadan,  dan Selo Bulan Januari 2012 –  Juli  2013
 


    Data pemantauan deformasi dengan pengukuran menggunakan tiltmeter pada minggu ini juga belum menunjukkan adanya perubahan kemiringan yang signifikan antara alat yang berada di daerah Plawangan (Gambar 4). Perubahan data tiltmeter pada sumbu x yang mengarah ke Barat-Timur sebesar  -0,2 mikroradian sedangkan sumbu y yang mengarah ke Utara-Selatan sebesar -0,1 mikroradian.
 


Gambar 4. Hasil pengukuran tiltmeter stasiun Plawangan Januari– Juni 2013, sumbu X: arah Barat-Timur dan sumbu Y: arah Utara-Selatan dari stasiun Plawangan.
  Di sekitar G. Merapi, hujan masih terjadi. Intensitas curah hujan tercatat sebesar 40 mm/jam selama 75 menit di Pos Kaliurang pada 11 Juli 2013. Walaupun hujan masih terjadi, namun kejadian lahar tidak terjadi.
 
Gambar 5. Curah hujan di setiap pos pengamatan pada bulan Januari 2012 – Juli  2013
 


 
Berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental status aktivitas G. Merapi berada pada tingkat “Normal”.
 
III. SARAN
 
  1. Berdasarkan hasil pengamatan G. Merapi dinyatakan dalam status “Normal”
  2. Pada minggu ini tidak terjadi hembusan asap namun demikian hembusan bisa terjadi setiap saat. Oleh sebab itu masyarakat dihimbau untuk tidak terlalu dekat berada di bibir kawah G. Merapi.
  3. Mengingat hujan masih terjadi masyarakat perlu tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya lahar.
  4. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

  5. Demikian kami sampaikan, atas perhatian dan kerjasamanya, kami ucapkan terima kasih.



    sumber: 
    http://www.merapi.bgl.esdm.go.id

Selasa, 09 Juli 2013

Laporan aktifitas Gunung ‪#‎Merapi‬ tangagl 1 - 7 Juli 2013, Status Normal



Saran:
1. Berdasarkan hasil pengamatan G. Merapi dinyatakan dalam status “Normal”
2. Fenomena hembusan yang terjadi di G. Merapi ini merupakan fenomena yang sering terjadi paska letusan 2010, masyarakat di himbau untuk lebih berhati-hati saat melakukan pendakian ke puncak G. Merapi. Disarankan pendakian hanya dilakukan sampai Pasar Bubar.
3. Mengingat hujan masih terjadi masyarakat perlu tetap waspada terhadap kemungkinan bahaya lahar.
4. Jika terjadi perubahan aktivitas G. Merapi yang signifikan maka status aktivitas G. Merapi akan segera ditinjau kembali.

LIFE HARMONY WITH DISASTER SIMULATION

In June 2013, precisely on Saturday 29th back in my village is Tamanagung, Muntilan district, Magelang regency, Central Java Province, Indonesia, will host disaster simulation in order to live in harmony with the disaster.As is well known in the year 2010 Mount Merapi erupted with very explosive and cause many casualties and property then in 2011-2012 in one after another with lava flood rains also damage the existing infrastructure, including hundreds of houses that are in the river that empties into the peak of Merapi and also loss of life. Through some investigation and observation turns out many casualties it is due to lack pahamnya the villagers living on the slopes of Mount Merapi, and also because of the lack of supporting information systems. Government as having responsibilities then answer it by organizing and holding various events and the anticipation of disaster management in addition to promote and facilitate in getting the latest information about the current state of the status of the volcano, With the help of various volunteer organizations such as PASAG Merapi, TAGANA and disaster relief organizations, and measured them with enthusiasm and has conducted trainings to make contingency plans and standard operating procedures, it is very important because with the increasing public understanding of the importance of it as well community capacity will be built. In the intensity of the program run the government must also have a sister program is the flagship program of the village in this case to further organize the refugees if a disaster such as occurred last year. Sister village programs that define the village on the slopes of Merapi to where they would be displaced if the eruption of Mount Merapi and anyone who should get the information quickly, accurately and measured about the current status of Mount Merapi. and the one that became the pilot village and Village Ngargo mulyo Tamanagung, Ngargo Mulyo village itself is located in a disaster-prone region III is an area that is very dangerous because if the eruption occurred in the region will lunge with primary hazards such as heat and toxic gas clouds than material of bursts mountain. While the village buffer Tamanagung is situated – + 32 Km from the summit of Merapi which is often called the disaster prone areas I. For more internalized in the handling of the disaster, the two villages that will perform a disaster simulation in fasilitatori by PSMB-UPN Yogyakarta, a disaster management agency and study at the university yogyakarta Yogyakarta National Development University in collaboration with government agencies that specifically deal about the disaster that is BPBD Magelang is fully supported by the institution Nasionan Scale disaster Management and also BPPTK the Hall probe and development volcano Yogyakarta. The hope is that this move can hopefully serve as a model for disaster management in Indonesia and of course I hope the public is increasingly aware of the disaster that was in the area but they were able to live in harmony with the disaster itself. (Tegelinang 2013)

Senin, 08 Juli 2013

Elang jawa


Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) adalah salah satu spesies elang berukuran sedang yang endemik di Pulau Jawa. Satwa ini dianggap identik dengan lambang negara Republik Indonesia, yaitu Garuda. Dan sejak 1992, burung ini ditetapkan sebagai maskot satwa langka Indonesia

Elang yang bertubuh sedang sampai besar, langsing, dengan panjang tubuh antara 60-70 cm(dari ujung paruh hingga ujung ekor).
Kepala berwarna coklat kemerahan (kadru), dengan jambul yang tinggi menonjol (2-4 bulu, panjang hingga 12 cm) dan tengkuk yang coklat kekuningan (kadang nampak keemasan bila terkena sinar matahari). Jambul hitam dengan ujung putih; mahkota dan kumis berwarna hitam, sedangkan punggung dan sayap coklat gelap. Kerongkongan keputihan dengan garis (sebetulnya garis-garis) hitam membujur di tengahnya. Ke bawah, ke arah dada, coret-coret hitam menyebar di atas warna kuning kecoklatan pucat, yang pada akhirnya di sebelah bawah lagi berubah menjadi pola garis (coret-coret) rapat melintang merah sawomatang sampai kecoklatan di atas warna pucat keputihan bulu-bulu perut dan kaki. Bulu pada kaki menutup tungkai hingga dekat ke pangkal jari. Ekor kecoklatan dengan empat garis gelap dan lebar melintang yang nampak jelas di sisi bawah, ujung ekor bergaris putih tipis. Betina berwarna serupa, sedikit lebih besar.
Iris mata kuning atau kecoklatan; paruh kehitaman; sera (daging di pangkal paruh) kekuningan; kaki (jari) kekuningan. Burung muda dengan kepala, leher dan sisi bawah tubuh berwarna coklat kayu manis terang, tanpa coretan atau garis-garis.[2]
Ketika terbang, elang Jawa serupa dengan elang brontok (Nisaetus cirrhatus) bentuk terang, namun cenderung nampak lebih kecoklatan, dengan perut terlihat lebih gelap, serta berukuran sedikit lebih kecil.
Bunyi nyaring tinggi, berulang-ulang, klii-iiw atau ii-iiiw, bervariasi antara satu hingga tiga suku kata. Atau bunyi bernada tinggi dan cepat kli-kli-kli-kli-kli. Sedikit banyak, suaranya ini mirip dengan suara elang brontok meski perbedaannya cukup jelas dalam nadanya.[

Penyebaran, ekologi dan konservasi[sunting]

Elang Jawa, Kebun Binatang Bandung
Sebaran elang ini terbatas di Pulau Jawa, dari ujung barat (Taman Nasional Ujung Kulon) hingga ujung timur di Semenanjung Blambangan Purwo. Namun demikian penyebarannya kini terbatas di wilayah-wilayah dengan hutan primer dan di daerah perbukitan berhutan pada peralihan dataran rendah dengan pegunungan. Sebagian besar ditemukan di separuh belahan selatan Pulau Jawa. Agaknya burung ini hidup berspesialisasi pada wilayah berlereng. [4]
Elang Jawa menyukai ekosistem hutan hujan tropika yang selalu hijau, di dataran rendah maupun pada tempat-tempat yang lebih tinggi. Mulai dari wilayah dekat pantai seperti di Ujung Kulon dan Meru Betiri, sampai ke hutan-hutan pegunungan bawah dan atas hingga ketinggian 2.200 m dan kadang-kadang 3.000 mdpl.
Pada umumnya tempat tinggal elang jawa sukar untuk dicapai, meski tidak selalu jauh dari lokasi aktivitas manusia. Agaknya burung ini sangat tergantung pada keberadaan hutan primer sebagai tempat hidupnya. Walaupun ditemukan elang yang menggunakan hutan sekunder sebagai tempat berburu dan bersarang, akan tetapi letaknya berdekatan dengan hutan primer yang luas.

Burung pemangsa ini berburu dari tempat bertenggernya di pohon-pohon tinggi dalam hutan. Dengan sigap dan tangkas menyergap aneka mangsanya yang berada di dahan pohon maupun yang di atas tanah, seperti pelbagai jenis reptil, burung-burung sejenis walikpunai, dan bahkan ayam kampung. Juga mamalia berukuran kecil sampai sedang seperti tupai dan bajing,kalongmusang, sampai dengan anak monyet.
Masa bertelur tercatat mulai bulan Januari hingga Juni. Sarang berupa tumpukan ranting-ranting berdaun yang disusun tinggi, dibuat di cabang pohon setinggi 20-30 di atas tanah. Telur berjumlah satu butir, yang dierami selama kurang-lebih 47 hari.
Pohon sarang merupakan jenis-jenis pohon hutan yang tinggi, seperti rasamala (Altingia excelsa), pasang (Lithocarpus sundaicus),tusam (Pinus merkusii), puspa (Schima wallichii), dan ki sireum (Eugenia clavimyrtus). Tidak selalu jauh berada di dalam hutan, ada pula sarang-sarang yang ditemukan hanya sejarak 200-300 m dari tempat rekreasi.[3]
Di habitatnya, elang Jawa menyebar jarang-jarang. Sehingga meskipun luas daerah agihannya, total jumlahnya hanya sekitar 137-188 pasang burung, atau perkiraan jumlah individu elang ini berkisar antara 600-1.000 ekor.[5] Populasi yang kecil ini menghadapi ancaman besar terhadap kelestariannya, yang disebabkan oleh kehilangan habitat dan eksploitasi jenis. Pembalakan liar dankonversi hutan menjadi lahan pertanian telah menyusutkan tutupan hutan primer di Jawa.[6] Dalam pada itu, elang ini juga terus diburu orang untuk diperjual belikan di pasar gelap sebagai satwa peliharaan. Karena kelangkaannya, memelihara burung ini seolah menjadi kebanggaan tersendiri, dan pada gilirannya menjadikan harga burung ini melambung tinggi.
Mempertimbangkan kecilnya populasi, wilayah agihannya yang terbatas dan tekanan tinggi yang dihadapi itu, organisasi konservasi dunia IUCN memasukkan elang Jawa ke dalam status EN (Endangered, terancam kepunahan). [7] Demikian pula, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai hewan yang dilindungi oleh undang-undang.[8]

Catatan taksonomis[sunting]

Sesungguhnya keberadaan elang Jawa telah diketahui sejak sedini tahun 1820, tatkala van Hasselt dan Kuhl mengoleksi dua spesimen burung ini dari kawasan Gunung Salak untuk Museum Leiden, Negeri Belanda. Akan tetapi pada masa itu hingga akhir abad-19, spesimen-spesimen burung ini masih dianggap sebagai jenis elang brontok.
Baru di tahun 1908, atas dasar spesimen koleksi yang dibuat oleh Max Bartels dari Pasir Datar, Sukabumi pada tahun 1907, seorang pakar burung di Negeri Jerman, O. Finsch, mengenalinya sebagai takson yang baru. Ia mengiranya sebagai anak jenis dari Spizaetus kelaarti, sejenis elang yang ada di Sri Lanka. Sampai kemudian pada tahun 1924, Prof. Stresemann memberi nama takson baru tersebut dengan epitet spesifik bartelsi, untuk menghormati Max Bartels di atas, dan memasukkannya sebagai anak jenis elang gunung Spizaetus nipalensis.[3]
Demikianlah, burung ini kemudian dikenal dunia dengan nama ilmiah Spizaetus nipalensis bartelsi, hingga akhirnya pada tahun 1953 D. Amadon mengusulkan untuk menaikkan peringkatnya dan mendudukkannya ke dalam jenis yang tersendiri, Spizaetus bartelsi.[9]