Headline News

Read more: http://secebisilmu.blogspot.com/2013/05/cara-pasang-berita-terbaru-headline.html#ixzz2Vs7VTXPC
Ada kesalahan di dalam gadget ini

Jumat, 01 Mei 2015

Belajar bersama AHA Center, Pasag Merapi dan PMI


Deles, Klaten. Pada hari ini, Jumat 1 Mei 2015 Pasag Merapi dan Radio Komunitas Lintas Merapi menerima kunjungan dari AHA center (Asean Humanitarian Assisstance) dan PMI. AHA center sendiri merupakan suatu bentuk kesepakatan negara ASEAN dalam penanggulangan bencana.

Kunjungan ini rangkaian dari pogram kerjasama negara ASEAN tentang penanggulangan bencana. Peserta dalam pelatihan ini ialah para pemangku kebijakan bidang bencana dari negara ASEAN (kecuali Singapura dan Brunei) dan merupakan pelatihan gelombang yang kedua.


Tujuan dari kunjungan ke Pasag dan Lintas Merapi untuk mengetahui/mendapatkan gambaran peran masyarakat (Pasag Merapi dan Rakom Lintas Merapi) dalam penanggulangan bencana di masyarakat dan mengenai pengelolaan informasi bencana secara cepat dan akurat kepada masyarakat sekitar gunung Merapi. Selain di Yogyakarta para peserta ini juga akan berkunjung ke Aceh dan Padang untuk belajar tentang pengelolaan bencana tsunami dan gempa bumi. Diharapkan dalam proses pelatihan ini ke depannya jika terjadi bencana di salah satu negara ASEAN maka negara-negara yang lain dapat membantu dengan cepat karena komunikasi yang sudah dibangun lewat program pelatihan ini.   (Kurniawan Widiyantoro)

Kamis, 18 Desember 2014

Kelompok Anak Pecinta Lingkungan "Kancing"


Anak Kancing (Kelompok Anak Pecinta Lingkungan) didirikan tahun 2008, awalnya Pak Sukiman ingin mengajak dan mengajari ibu-ibu soal mitigasi bencana. Tetapi di saat mengundang ibu-ibu untuk datang pertemuan untuk belajar mengenai mitigasi bencana, selalu ibu-ibu tersebut tidak mau datang. “Aku kepengennya mengajari dan mengundang ibu-ibu untuk di latih mengenai mitigasi bencana”, kata Pak Sukiman. Akhirnya Pak Sukiman, ada sedikit trik bagaimana caranya agar ibu-ibu tersebut bisa hadir dengan mengadakan lomba PPGD (Penanganan Penderita Gawat Darurat) untuk anak-anak dan memberikan hadiah berupa kaos bagi peserta. Kemudian Lintas Merapi FM sebagai penyelenggara, menghelat acara lomba tersebut tetapi di khususkan buat anak-anak, dengan maksud lomba itu adalah agar ibu-ibu mau datang dan mendampingi anaknya untuk belajar dan dilatih PPGD sebelum di lombakan. “Bagi orang tuanya boleh mendampingi anaknya untuk memberi pemahaman, mengingatkan pelajaran nanti, otomatis ibunya yang belajar adalah ibunya juga”, imbuh Sukiman. Akhirnya perlombaan mitigasi menjadi rame oleh banyaknya peserta yang ikut dan terlibat. Ibu-ibu juga antusias terlibat dan malah mengajari anaknya karena mendampinginya. Dengan begitu ibu-ibu tersebut juga memahami dan otomatis ikut belajar PPGD tersebut secara tidak langsung. Kesadaran yang lain adalah anak-anak belajar ‘legowo’, ‘nerimo’, ikhlas dalam melakukan segala hal. Contohnya, menanam pohon di hutan, karena jika hutannya lebat dan terjaga dan melestarikan maka kita juga akan di jaga oleh alam.

Sebuah  kampung   yang  hanya  berjarak 4,5 km dari  kaki Gunung Merapi, Kampung  Deles, Desa Sidorejo,  Kemalang, Klaten Jawa tengah. Sejak tahun 1999, di  Deles   sudah ada  radio komunitas  yang  diberi nama  Radio Komunitas  lintas merapi.  Dan radio yang  dibuat  oleh  warga  bernama  Sukiman itu, telah menjadi  satu perekat antar warga di sana. Dari  radio inilah warga bertukar  informasi , terutama soal  kondisi   Gunung  yang masih aktif  itu. Radio ini menjadi pusat informasi dan disaat merapi mulai menunjukan tanda-tanda aktif. Komando  untuk evakuasi dan lain-lain datang dari Sukiman dan radionya ini. Kegiatan awal yang dilakukan oleh Sukiman  adalah datang kerumah-rumah warga mengajari  mereka bagaimana cara menanam sampai warga itu bisa menaman dan menghasilkan  panen yang berlimpah. Tak hanya pada kelompok orang dewasa, Sukiman  juga  mengajak   generasi  muda   untuk   mencitai  alam. Lewat Kelompok  Anak  Cinta  Lingkungan (Kancing), anak-anak dan remaja di Deles memiliki kesadaran  yang  tinggi  tentang  pohon dan satwa di wilayah  gunung Merapi.  Selain  itu mereka juga menjadi kelompok  belajar berbagai  ilmu, dari pelajaran bahasa hingga seni (Forum PRB).

Pada tahun 2011, salah satu kegiatan keberlanjutan bagi anak-anak masih tetap berlangsung dalam belajar soal mitigasi bencana adalah selain menanam pohon juga dilatih mengenal merapi agar tidak trauma kemudian belajar yang formal dengan belajar dengan melukis. Melukis dengan membayangkan apapun itu soal Merapi kemudian di presentasikan.  Salah satu anak waktu itu melukis burung yang menceritakan bahwa burung tersebut terbang menghindari awan panas, dan ada pohon-pohon sekitar Merapi yang gunanya adalah menahan awan panas. Jadi anak tersebut sudah mempunyai pemikiran pemahaman sendiri menurut mereka mengenai Merapi.

Satu hal yang dipercaya Sukiman dan warga Deles,  bahwa selama ini merapi tidak pernah memakan  korban jiwa dikampungnya karena masyarakat Deles gemar menjaga lingkungan dan  menanam pohon, semakin lestari semakin selamat mereka dari bencana. Dan mereka  percaya pohon-pohon yang mereka tanam dan jaga itu adalah benteng keselamatan  bagi mereka. Meski  demikian mereka  selalu   bersiap-siap dengan  segala  kemungkinan, termasuk rajin melakukan latihan mitigasi. Sehingga mereka menjadi siap tatkala Gunung Merapi beraksi.

Mengutip dari dari Radio Komunitas Wijaya FM (15/03), Keterlibatan anak-anak yang sangat besar, sehingga tahun 2008 Sukiman membentuk sebuah komunitas  KANCING (Komunitas Anak anak Cinta Lingkungan), hal ini merupakan bagian dari upaya melindungi satwa hutan, penghijauan juga melakukan pelestarian hutan dengan mengadakan penjadwalan kepada anak-anak untuk memberi makan hewan yang ada dihutan (khususnya kera), serta ikut melibatkan dalam penghijauan lingkungan disekitar merapi. Fisik anak-anak ini sangat hebat karena sebagian besar sudah sering melakukan  pendakian sampai puncak merapi. Semakin berkembang, menyoal belajar pemahaman soal Merapi melalui anak-anak sekitar Merapi selalu Pak Sukiman meminta oleh mahasiswa atau siapapun orang yang sedang belajar atau berkunjung untuk ‘Ngangsu Kaweruh’ soal radio komunitas atau pemahaman soal Merapi di Lintas Merapi FM untuk diwajibkan mengajari anak-anak soal pendidikan formal seperti matematika, ilmu sosial, ilmu alam, atau bahasa inggris sesuai dengan keahlian orang atau mahasiswa tersebut.

Awalnya dalam mengajari anak-anak tersebut berangkat dari emosi sesaat Pak Sukiman, tetapi pada akhirnya pengajaran ini adalah sangat penting bahwa kegotoroyongan yang artinya semua beban dan biaya semuanya bisa di peroleh atas hasil gotong royong warga setempat adalah solusi untuk mengasuh anak-anak dan mengajari pemahaman soal Merapi. Tidak tentu di komunitas KANCING ini dalam melakukan pertemuan atau penjadwalan secara reguler untuk belajar bersama tetapi terkadang beberapa minggu atau minimal beberapa bulan di pasti ada pertemuan, kadang malah tidak di ijinkan untuk pertemuan di saat anak-anak sibuk sekolah. Anak-anak Merapi oleh Pak Sukiman diajarkan kepeduliaannya dengan lingkungan sekitar agar tetap menjaga dan memahami karakter Merapi agar mereka selalu waspada. Pak Sukiman sudah 2 tahun ini menjadi bapak asuh, beberapa anak dibiayainya untuk ke sekolah di peroleh dari hasil gotong royong sumbangan iuran dari warga sekitar. Anak-anak juga diajari kerja bakti membenahi jalur evakuasi, bahwa jalur evakuasi adalah penting bagi dirinya sendiri, ketika mereka suatu saat menjadi dewasa dan memimpin di wilayah Klaten adalah sangat penting baginya jalur evakuasi.

Buku-buku ketika ada pameran di Jogja, Pak Sukiman pasti meminta bukunya dengan kuota yang banyak karena di Kancing ada program membaca bersama. Program Kancing yang lain adalah bermain dan belajar serta melukis. Pernah waktu itu anak-anak Kancing bekerjasama dengan jaringan yang ada di Australia, hasil melukis anak-anak Kancing di foto kegiatannya oleh orang Australia kemudian di pamerkan di Beijing. Kegaiatan menulis juga diajarkan bagi anak-anak juga kemudian di unggah di website jalinmerapi.net bernama “Kumpulan Karya Anak Kancing”. Anak Kancing sangat fasih jika menceritakan soal Merapi. Mengenal Merapi adalah menjadi sebuah kebutuhan yang utama.

Pernah anak-anak Kancing bekerjasama dengan Taman Kanak-kanak (TK), Sekoah Dasar (SD) Kanisius bersama wali murid berwisata alam, dengan program penanaman pohon, melakukan pemupukan dengan pupuk kandang di wilayah hutan di sekitar Merapi di Deles, Klaten. Ada juga donatur dari orang Indonesia yang belajar di Jepang membantu memberikan bibit tanaman cemara di Deles yang peduli dengan Merapi. Program-program bagi Anak Kancing ke depan adalah arahnya agar menjadi generasi muda nanti sudah mengenali dan mempunyai cara-cara mitigasi bencana Merapi. Menjadi anggota kancing sangatlah mudah, siapa saja yang ingin belajar dipersilahkan bergabung yang usianya masih sekolah dasar.
Ketika ada lembaga atau relawan yang membantu trauma healing kepada anak-anak dan koordinator Kancing mencegahnya, dikarenakan bantuannya berupa robot-robotan, boneka, mobil-mobilan kemudian di bungkus dalam satu box karena permaianan tersebut di peroleh dari membeli, mereka (anak Kancing) tidak ingin bermain seperti itu, mereka lebih memilih permainan tradisional seperti ‘egrang’ permainan dari bambu.




sumber : https://www.facebook.com/notes/nuno-rahman/kelompok-anak-pecinta-lingkungan-kancing/10152899165375480

Selasa, 09 Desember 2014

Cerita cerita soal Gunung Turgo dan Merapi




Mbah Marjo Utomo (80an tahun), kesehariannya bekerja sebagai petani, ngarit (merumput) dan ambil kayu di hutan yang tersebar di lereng  Merapi. Dalam bertani Mbah Marjo menanam tanaman seperti, telo bonggol (singkong), luwung (telo rambat), gendruk (tales), lombok, buncis, sawi dan tanaman lainnya. Mbah Marjo sambil mengingat waktu jaman dulu antara tahun 1994, cerita itu diawali, “elingku biyen loh mas, iki aku cerito ngoko, aku nek boso ora iso, Indonesia ora iso, mergo dasare biyen ora sekolah” (Saya bercerita berbahasa Jawa ngoko, karena berbahasa Jawa halus tidak begitu lancar dan tidak bisa berbahasa Indonesia karena tidak pernah mengenyam bangku sekolah), ingatnya. Mbah Marjo punya mimpi, di mimpinya ada orang tua menemui mbah marjo, dia memberitahu “Anakku sing tak pangku sak bendino awan bengi, iki sesuk kiro-kiro jam 10 punjul sitik kurang sitik, podo sumingkiro ning Kulon, iki sing marakke Eyang Sapu Jagad Merapi arep arak-arakan ning Mbok Nyai Roro Kidul” kira-kira begitu dalam bahasa jawa, yang artinya anakku yang saya pangku setiap hari siang dan malam, besok kira-kira antara jam 10 an, menyikirlah kearah barat, dikarenakan Eyang Sapu Jagad Merapi akan mengadakan arak-arakan ke Mbok Nyai Roro Kidul.


Dikarenakan memang saudara Mbah Marjo, akan menggelar pesta pernikahan dan menceritakan mimpinya semalam kepada saudara-saudaranya termasuk ke adik, kakak dan paman mbah Marjo sendiri tidak percaya cerita dari hasil mimpinya. Malah yang dianggap Bapak (dianggap tua) oleh Mbah Marjo nyeletuk, “le koe ngimpi kui mergone koe wes madang wareg, madang enak karo tempe tahu, karo iwak, ngombe wedang ono lemper, ono roti, kui kepenak ngimpimu. Ngimpimu kui ra dadi sebab” (kamu mimpi karena kamu sudah makan kenyang, makan enak dengan tempe tahu, dengan ikan, minum teh dengan cemilan lemper, ada roti, mimpimu enak. Ngimpimu tidak akan menjadi kenyataan).

Mbah Marjo juga bercerita bahwa, jaman dahulu ketika kakeknya masih hidup pernah bertutur  kalau Dusun Turgo itu belum pernah mengalami perlintasan jalur letusan material Merapi, kalaupun Merapi “Ngeduke Bahan” (mengeluarkan material) itu punya perlintasan sendiri yaitu melalui sisi wetan ( Klaten) dan kulon (Magelang) Merapi. Dalam mimpinya Mbah Marjo memang mempunyai kewajiban untuk menyampaikan mimpinya soal perkiraan adanya tanda-tanda akan ada letusan Merapi yang akan mengarah ke daerah Turgo ke tetangga-tetangga dan saudara-saudara atau warga terdekat entah nanti dipercaya atau tidak itu terserah warga. “Saya mimpi itu bunganya orang tidur, yang penting mimpi saya sudah berusaha untuk saya sampaikan kepada warga yang lain, perkara akan di percaya atau tidak itu sudah bukan menjadi beban saya, dan harapan saya tidak terjadi apa-apa. Kalau toh nanti akan ada kejadian, Saya sudah memberitahukan sejak awal dan sudah tidak lagi menjadi beban saya karena saya sudah berusaha menyampaikan kepada tetangga-tetangga”, pungkasnya. Tetapi banyak kawan-kawan Mbah Marjo yang di beritahu soal mimpinya malah menyangkal tidak percaya.

Pada akhirnya kejadian itu benar-benar terjadi, tanda-tanda itu dirasakan Mbah Marjo, letusan material dan awan panas Merapi meluncur menerjang Bukit Turgo dan kawasan Dusun yang berjarak sekitar 4 kilometer itu. Bertepatan dengan itu, saudara Mbah Marjo sedang menyelenggarakan pernikahan. Mbah Marjo ingin menyelamatkan diri dari luncuran awan panas Merapi, tetapi saat itu para undangan sudah berdatangan di rumah saudaranya yang sedang ada acara pernikahan, sehingga rasa pekewuh menyelimuti hatinya. Perasaan Mbah Marjo saat itu berkecamuk, bisa jadi Jika tidak pergi menyelamatkan diri, perasaan dia nanti bisa menjadi buah bibir dan pasti akan diperingatkan oleh tetangga-tetangga karena sedang ada acara perhelatan nikahan saudaranya, padahal warga dan para tetangga sudah berkumpul untuk hadir menghormati acara tersebut. Akhirnya tekad Mbah Marjo, dia percaya pada yang Kuasa (Tuhan), karena mati hidupnya di pasrahkan kepada Tuhan apapun yang terjadi sehingga dia tetap tinggal dan tetap mengurusi acara nikahan itu walau perasaan berkecamuk tidak karuan. Dan atas kejadian letusan Merapi itu, Mbah Marjo sekujur tubuhnya terlumat oleh awan panas dan pingsan tetapi dapat diselamatkan, anak dan cucunya terkena juga hembusan ganasnya awan panas hingga menewaskannya. Mbah Marjo dibawa kerumah sakit Dr. Sardjito selama 3,5 bulan dengan luka bakar yang parah dan berjuang untuk mempertahankan jiwa raganya agar tetap bisa hidup. Dia juga melihat dari tanda-tanda alam diantaranya, banyak kijang berlarian turun untuk mencari makan di kebun warga termasuk kebunnya Mbah Marjo sendiri, yang biasanya mencari makan di atas bukit. Mungkin karena suhu bukit Turgo juga terimplikasi hawa yang memanas, oleh sebab itu binatang pada turun gunung.

Sedikit mengulas mimpi Mbah Marjo, dia berpersepsi yang muncul dalam mimpinya adalah sesosok dalam dunia gaib “sing baurekso” (yang berkuasa) gunung Turgo. Gunung Plawangan dan gunung Turgo menurutnya adalah jaman dahulu adalah gunung tertua sebelum gunung Merapi ada yang saat ini muncul. Warga Turgo sangat mempercayai bahwa gunung Merapi Tua (Gunung Bibi/Bibi Biyung), yaitu Gunung Plawangan dan gunung Turgo. Dan masyarakat juga mempercayai bahwasanya selama ini letusan Merapi dan dampak yang di akibatkannya tidak akan melalui Dusun turgo karena terlindungi oleh Gunung Turgo yang dianggap lebih tua dari gunung Merapi. Kepercayaan ini turun menurun hingga sekarang. Dengan seijin yang Maha Kuasa, Mbah Marjo di jadikan sebagai penyambung komunikasi antara penguasa Merapi (Baurekso) dengan warga Dusun Turgo. Setiap kali jika Merapi akan meletus dan ‘ngedunke bahan okeh’ (mengeluarkan material banyak), dia selalu diberitahu tanda-tanda (peringatan) sebelumnya melalui mimpi. Dia juga antara percaya dan tidak, tetapi pada tahun 1994 telah terbukti Merapi meletus pada jam 10:30 WIB dan sesuai apa yang disampaikan dalam mimpinya. Dari situ, Mbah Marjo sangat mempercayainya bahwa dengan seijin yang Maha Kuasa mimpinya sebagai peringatan dini bahwa Merapi akan Meletus. Begitu juga jika sebelum Merapi meletus dan mengeluarkan material yang sangat banyak, dia selalu mendapat mimpi sebagai pemberitahuan (peringatan) dini jika nanti suatu saat Merapi akan meletus.

Ini dibuktikan saat dia mendapatkan mimpi dan langsung menceritakan kepada anaknya bahwa akan ada letusan Merapi dengan tanda-tanda sesuai apa yang deskripsikan dari mimpinya tersebut, kejadian ini terbukti benar adanya, Merapi pada akhirnya meletus sesuai apa yang di ceritakan dalam mimpinya itu. Sebetulnya warga Turgo pantangan dalam menyebutkan ‘Merapi meletus’, jadi mereka menyebutnya ‘ngedunke material’ (menurunkan material dalam hal ini material gunung berapi) seperti awan panas, abu vulkanik dan pasir ataupun batu/kerikil. Jika merapi itu akan punya ‘hajat’ (meletus) besar, setelah mendapatkan tanda-tanda melalui mimpinya itu dia di datangi seseorang yang memakai keris atau ‘pendok’, memakai celana tetapi agak naik dari mata kaki (celana tanggung), memakai ikat gadung melati, sikepan, sejak di datangi orang seperti itu tahun 2006 dan 2010 sosok itu orang yang seperti itu muncul kembali melalui mimpinya. Sosok yang di mimpi tersebut kemunculannya di status saat Merapi dalam keadaan siaga dan harinya saat itu adalah jumat pon. Mbah Marjo ingin mendapat peringatan dini ini melalui mimpi, bahwa tidak hanya dari tanda-tanda sirine yang biasa dipergunakan oleh warga untuk memberikan informasi bahwa Merapi dalam keadaan bahaya dan dianjurkan warga untuk menjauhinya. Karena setiap orang mempersepsikan tanda-tanda peringatan dini ada berbagai macam dan berbeda-beda, berangkat dari situlah Mbah Marjo mengambil kesimpulan bahwa ada benarnya jika apa yang disampaikan dalam mimpi tersebut benar terjadi. Selalu saja mendapatkan peringatan atau tanda-tanda, tidak semua orang tahu dan tidak semua orang bisa menterjemahkan tanda-tanda dari mimpinya Mbah Marjo. Begitu pada tahun 1994, Mbah Marjo menceritakan kepada orang-orang sekitar di lingkungannya tetapi orang-orang tersebut menyepelekannya, malah beranggapan dan mengira bahwa Mbah Marjo itu adalah hanya sebuah bunga tidur karena mereka belum pernah mengalami bahwa letusan Merapi mengarah ke wilayah Turgo.  Letusan klasik Merapi selalu mengarah ke wilayah barat semua, tetapi pada tahun 1994 pada akhirnya bisa membukakan bahwa siklus Merapi itu tidak hanya mengarah di barat saja tetapi bisa juga mengarah ke barat daya (Turgo). Pasca tahun 1994 juga ada letusan yang mengarah ke selatan, adanya perubahan siklus ini bisa mematahkan teori-teori PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi). Kepercayaan masyarakat Turgo dahulunya memang Merapi tidak akan meletus yang mengarah ke Turgo karena sudah ada sesepuhnya yang menghalanginya yaitu bukit Turgo tersebut, akhirnya berkata lain bahwa Merapi letusannya melalui sungai Boyong.

Pada jaman dahulu tahun 1994, pada hari jumat pukul 10.30 WIB terjadi letusan besar. Saat itu wilayah Turgo sudah terbakar semua tersapu awan panas yang di timbulkan oleh gas yang dikeluarkan oleh Merapi, semua orang melarikan diri tunggang langgang untuk menyelamatkan jiwanya masing-masing. Waktu itu Mbah Marjo sedang memasukkan sapi ke kandang untuk di beri makan. Sebelum sempat melarikan diri Mbah Marjo ternyata terkena sapuan awan panas dan tidak sadarkan diri. Saat terbangun posisinya sudah berada di rumah sakit Sardjito dan menyadari bahwa sekujur tubuhnya terbakar, tangan, kaki, kuping dan hampir semua kulitnya mengelupas dan membekas hingga kini. Pihak rumah sakit Sardjito sempat memberikan penanganan dengan mengoperasi plastik pada diri Mbah Marjo. Letusan itu menelan korban jiwa sekitar 30 orang dusun Turgo saja dan keseluruhan korban meninggal mencapai 68 orang dari berbagai daerah sekitar Merapi saat itu.

Kendati jauh berlipat kecilnya dari Merapi, namun warga sekitar meyakini bahwa bukit Turgo itulah yang selama ini membentengi dan menyelamatkan mereka saat Merapi punya gawe (erupsi). Tetapi keyakinan warga tersebut di bantahkan oleh alam, di saat Merapi punya ‘Gawe’ tak terelakkan pula Dusun Turgo luluh lantah. Mbah Marjo sudah memberikan peringatan sebelum kejadian tetapi warga tidak percaya. Pada tahun 2006, Mbah Marjo juga memberikan peringatan kepada warga bahwa akan ada ‘Gawe’ besar yang akan di helat oleh Merapi, dan warga Turgo saat itu mempercayai apa yang di katakan Mbah Marjo, kemudian warga cepat-cepat untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman. Sehingga di hari ‘Gawe’ Merapi, tak ada korban yang menimpa warga Turgo.

Asal Muasal Pasag Merapi

Setelah dilakukan perawatan di rumah sakit Sarjito selama sebulan, Mbah Marjo sudah dianggap sehat dan sembuh, kembalilah ke rumahnya di Turgo. Karena rumahnya sudah hancur tak bersisa Mbah Marjo mendirikan gubuk kecil sebagai tempat tinggal sementara dan melanjutkan membangun kandang sapi juga sebagai tempat masak dan kebutuhan dapur lainnya sekaligus untuk menjaga ternaknya. Sedikit demi sedikit, Mbah Marjo membenahi rumahnya, membeli genteng sebagai atap rumah yang awalnya atapnya dari anyaman daun kelapa. Setelah semuanya normal atas amukan Merapi, rumahnya sudah layak sebagai tempat tinggal dan rumah itu malahan dijadikan sebagai tempat orang untuk singgah yang menuju bukit Turgo yang ingin melakukan tirakatan dan berdoa di bukit tersebut. Antara tahun 1995-1996, Mbah Marjo membangun rumahnya secara permanen hingga sekarang. Nah, saat tahun 1997, awal Mbah Marjo bertemu dengan Kang Eko Teguh (ET) dan mengadakan pertemuan pertama Pasag Merapi (Paguyuban Sabuk Gunung Merapi) di rumah ini juga. Pertemuan itu di gagas, mengundang warga Merapi yang terkena imbas letusan gunung teraktif itu. Dikutip tanggal 27 Februari, 2007, bbc.co.uk, ketika para petani Lereng Merapi membentuk organisasi ini pada tahun 1997, modal mereka hanyalah kemauan bekerja dan dana seadanya dari kantong mereka sendiri. Paguyuban desa yang bertujuan mengembangkan kapasitas masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya dan pengurangan dampak bencana. Paguyuban masyarakat Merapi yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk mewujudkan kesadaran, kepedulian dan kemandirian dalam menjaga kelestarian kawasan Merapi. Malam hari menggunakan lampu Petromak, pertemuan Pasag Merapi di pertama di helat di rumah Mbah Marjo, warga datang dengan membawa bekal makanan mentah sendiri-sendiri seperti ubi, jagung, beras dan kemudian istri Mbah Marjo yang memasaknya. Kemauan warga ini perlu di apresiasi, mereka sangat ingin menggali ‘kaweruh’ (pengetahuan) dan ingin meningkatkan kesadaran diri terhadap ancaman Merapi.

Alasan Mbah Marjo ingin kembali lagi bermukim di wilayah Turgo dan tidak mau berpindah ke daerah lain di karenakan rumah di Turgo adalah tanah kelahirannya, nenek moyangnya juga terlahir di rumahnya sekarang dan sebagai tempat pencahariannya untuk melanjutkan hidup sehingga apapun yang terjadi saat Merapi mengeluarkan material letusan itu adalah sudah takdirnya, walau demikian Mbah Marjo mempercayainya bahwa Merapi adalah sebuah gunung yang memberikan berkah penghidupannya hingga saat ini. Jadi kita harus selalu waspada akan ancaman bencana dan selalu bersinergi juga berteman terhadap Merapi sehingga kita bisa hidup berdampingan. Mbah Marjo semasa hidupnya tidak mengenyam pendidikan. Menurut pengakuannya, Mbah Marjo juga tidak mengenal baca dan tulis. “aku kui wong ‘bodo’ (bodoh)”, kata Mbah Marjo. tetapi, menurut saya sebagai penulis, Mbah Marjo bukanlah 'bodo' dalam arti sebenarnya seperti yang sering dia katakan tetapi Mbah Marjo hanya ingin selalu rendah diri. Menganggap dirinya adalah orang yang bodoh. Orang yang bodoh akan selalu mencari pengetahuan, mencari ilmu baru. Suatu hal yang sering dilupakan oleh orang-orang pintar, yang merasa bahwa wawasannya sangat luas, otaknya sangat cerdas. Kemudian mereka menjadi lupa untuk terus meningkatkan kualitas diri karena merasa sombong dengan kelebihannya. Mbah Marjo adalah orang bodoh dengan segudang pengetahuan soal pemahamannya dengan Merapi. Jadi setiap kali Merapi jika ingin mengeluarkan bahan metrialnya, sebelumnya Mbah Marjo selalu di beritahu melalui mimpinya. Kenyataannya seperti yang sudah dilakukan Mbah Marjo, semua kejadian letusan Merapi terbukti sudah dari tahun 1994, 2006, 2010 dari pengetahuannya melalui mimpi. Dalam mimpinya dari tahun ke tahun, orang yang memberitahunya lewat mimpi orang yang sama dan berpakaian sama. Dalam mimpi itu, dibilang bahwa arah letusan waktu tahun 2006 mengarah kearah ‘ngalor, ngetan dan ngulon’ (utara, timur & barat) dan tahun 2010 juga di beritahu lewat mimpi dengan orang yang sama, Mbah Marjo di beritahu bahwa “anakku sing tak pangku sak ben dino saben bengi, iki sesuk sakjeroning seminggu Merapi ngeduke material luwih gede yang arahnya ngalor dan ngetan dan sebagian ngulon” kata Mbah Marjo menirukan orang yang berkata demikian dalam mimpinya. (artinya: anakku yang kujagain setiap saat, nanti selama seminggu penuh Merapi akan meletus dengan kekuatan yang besar sekali, arah letusannya yang besar ke utara, timur dan letusan kecil mengarah ke barat).

Ada apa-apa yang terjadi oleh Merapi dan oleh Mbah Marjo sendiri adalah berserah diri dan percaya sepenuhnya pada yang Kuasa (Tuhan). “Saya sangat percaya pada Yang Kuasa, hidup matiku kuserahkan pada Sang Kuasa, apapun yang terjadi pada ancaman dari Merapi” jelasnya.

Ziarah di Bukit Turgo

Rumah Mbah Marjo hingga sekarang masih di gunakan sebagai tempat singgah orang yang berziarah ke Bukit Turgo, Plawangan di Merapi, permintaan peziarah bermacam-macam, ada yang minta ingin keselamatan seluruh keluarga, ada yang ingin kaya, kecukupan dan lain sebagainya. Petilasan yang ada di puncak Bukit Turgo adalah Eyang Syeh Jumadilkubro pada jaman wali songo dahulu. Menurut cerita secara turun temurun, Syeh Jumadilkubro saat waktu dhuhur jam 12 siang melakukan sholat dengan para pengikutnya, setengahnya saat melakukan sholat dhuhur secara tiba-tiba Syeh Jumadilkubro tersebut menghilang. Tidak ada orang yang mengetahui keberadaannya hingga sekarang. Masih terjadi kontroversi, apakah kuburan yang ada di puncak bukit Turgo adalah kuburannya asli Eyang Syeh Jumadilkubro atau apakah hanya sebatas petilasan saja, karena menurut berbagai sumber juga ada yang mengatakan bahwa makam aslinya Eyang Syeh Jumadilkubro berada di Mojokerto.

Dari peziarah tersebut, mereka setelah meminta sesuatu dan terkabul, akhirnya para peziarah itu membangun ‘kijing’ (kuburan/petilasan) secara sukarela. “Peziarah disarankan datang dengan niat yang baik, tidak disarankan berniat negatif, seperti permintaan seperti seorang pencuri yang ingin keselamatan dalam melakukan aksinya, hal tersebut tidak akan terkabul dan mungkin malah mendapatkan bencana”, jelas Mbah Marjo. Kata Mbah Marjo juga, Eyangnya (Moyang Mabh Marjo) dulu adalah orang yang di jaga secara gaib oleh Eyang Syeh Jumadilkubro dan selalu diberikan berkah entah sedikit atau banyak. Pemberian berkah tersebut berupa alam yang berlimpah, seperti kebutuhan sehari-hari kecukupan yang terdapat di alam. Atau diberikan berkah menanam jagung atau ketela dan bisa panen banyak juga dapat di jual sehingga dapat rejeki yang berlimpah juga untuk membeli kebutuhan sehari-hari.

Dari kelurahan setempat bersama media besar (TPI, Routers, Indosiar, RCTI dll) mencari Mbah Marjo, melakukan wawancara, pemotretan, dan lain sebagainya. Saat itu Mbah Marjo berada di rumah lagi melakukan pekerjaannya membuat kandang ayam dari bambu, ada sesosok 4 orang datang membawakan gula, teh, beras, supermie, mengaku dari Kapala untuk bertemu dengan Mbah Marjo untuk rembugan dan memberikan HT (handy talky) untuk berkomunikasi mengabarkan kondisi lingkungan sekitar atau kondisi Merapi terkini dan sejumlah uang untuk kebutuhan sehari-hari. Lama-lama rumah Mbah Marjo dijadikan sebagai pusat informasi kebencaan oleh Kappala dan peningkatan kapasitas juga kesadaran diri kesiapsiagaan terhadap Merapi. Pertemuan ini menjadi saksi sejarah Pasag Merapi, antara Pak ET, Gendon dengan Mbah Marjo tersebut. Rumah Mbah Marjo juga di jadikan rumah kedua oleh Pak ET juga Gendon dari Kappala. Istilahnya oleh Mbah Marjo sudah nyedulur banget hubungannya antara Pak gendon, Pak ET dengan dia.

Cerita Dahulu Soal Merapi
Di eranya Mbah Marjo, Merapi sudah meletus sekitar tahun 1961, 1969, letusan besar terjadi mengarah ke Krasak, Bebeng, Kali Kuncet, warga mengungsi dan tak banyak korbannya. Dari berbagai peringatan lewat mimpi yang di terima oleh Mbah Marjo, tetapi dia tetap patuh terhadap aturan yang di keluarkan oleh pemerintah, seperti perintah untuk mengungsi maka dia akan mengungsi walau dia tau terlebih dulu bahwa kapan harus mengungsinya tetapi dia tidak ingin di anggap orang yang ‘pinter’ melainkan malah dia ingin selalu dianggap ‘bodo’. Dia tidak pernah berontak apalagi melawan apa yang sudah di tetapkan status, maupun kondisi atau melawan untuk mengungsi oleh pemerintah, bahwa sejatinya dia malah sudah tau terlebih dulu kapan harus mengungsi atau kapan Merapi akan meletus melalui mimpinya tersebut.

Menurut Mbah Marjo, Merapi itu adalah berhubungan erat dengan pantai laut selatan. Umpamanya seperti Merapi besanan dengan pantai laut selatan. Eyang Sapu Jagad Merapi jika ingin ‘ngeduke bahan’ berupa abu dan pasir yang mengarah kearah utara ataupun selatan, tetapi pembagian itu akan secara merata. Di Turgo sepengetahuan Mbah Marjo sekitar tahun 1994, warga melakukan pasang sesaji-sesaji di wilayah Kedung Boyong, Pojok Jalan dan Perempatan Jalan atau di letakkan di tempat yang dianggap bisa mewakili alam, seperti pohon besar, sungai dan lain sebagainya. Sesaji ini sebagai doa bagi masyarakat untuk meminta keselamatan seluruh warga di Turgo atas ancaman Merapi. Acara dilakukan setiap Suro, berada di rumah Pak Dukuh, entah acara tersebut besar atau kecil tetap dilakukan. Acara Suronan tidak hanya melakukan syukuran dan peletakan sesaji di beberapa tempat tetapi juga ada budaya sesembahan seperti bak air di perempatan juga, acara lain sehabis suronan warga biasanya melakukan begadangan (Melekan) di malam hari untuk berkumpul berembug dengan suguhan makanan tradisional hasil alam dan minum kopi. Kendurian juga dilakukan warga sebagai rasa syukur dan memohon keselematan kepada Tuhan dan berkah Merapi yang di berikan berupa pasir, air dan batu.

Yang di lakukan waga saat ini terhadap penambangan pasir di wilayah Kali Boyong, masih dilakukan secara manual tidak menggunakan alat berat untuk mengeruk pasir dengan keserakahan tetapi di gunakan sesuai kebutuhan saja. Mereka beranggapan bahwa jika alam sekitar Merapi di rusak dengan penambangan secara besar-besaran, warga percaya suatu saat Merapi akan marah dan menimbulkan bencana bagi warganya sendiri. Masih ada budaya dan kearifan lokal bahwa Merapi itu ada semacam garis lurus imajiner antara Merapi, keraton dan lau pantai selatan, kepercayaan ini masih kuat yang dirasakan oleh warga Merapi. Warga Turgo menganggap Merapi adalah sebuah makhluk hidup, sungai ibarat seperti kaki, jika kaki di rusak atau disakiti dengan mengambil pasir atau batu secara serakah menggunakan alat berat, maka Merapi akan marah besar. Menurut kepercayaan warga Turgo, bahwa Merapi jika akan meletus besar jika ada ‘sinabuk ing wesi’, bego-bego dan truk tambang berada di lingkar Merapi, yang kedua filosofinya Merapi adalah sungai ibarat kaki dan hutan adalah bagian tubuh Merapi yang lain, maka jika sungai (kaki) di sakiti setiap hari tentunya yang punya tubuh akan merasa sakit. Mengapa letusan tahun 2006 mengarah ke selatan? Biasanya informasi dari BPPTK dan PVMBG meramalkannya mengarah ke magelang, atau letusan klasik. Ternyata Mbah Marijan dan Mbah Marjo berpendapat lain, “embane koyo kebul kenalpot” (ibaratnya adalah asap seharusnya keluar dari knalpot), “nanging kebul itu metune ora seko knalpot” (tetapi keluar asapnya tersebut tidak keluar dari knalpot) berarti ada masalah di motornya, itu juga terjadi pada gunung Merapi juga. Biasanya letusan itu mengarah ke utara, tetapi saat itu letusan mengarah ke selatan, itu terjadi pasti ada masalah yang terjadi dalam kepemimpinan, pemerintahan, atau ada kekurang beresan dalam pemanfaatan di Merapi. Mempelajari Merapi itu tidak hanya pada proses kebencaannya saja tetapi harus menjaga lingkungan di sekitar Merapi.

Mempelajari Merapi tidak hanya dari tanda-tanda ilmiah saja tetapi juga mempelajari tanda-tanda non ilmiah sebagai sistem peringatan dini dari ancaman Merapi. Mbah Marjo termasuk salah satu orang yang khusus dapat menjadi sistem peringatan dini bagi ancaman bencana Merapi dari segi non ilmiah yang tidak dimiliki warga lain di Dusun Turgo. Mbah Marjo pernah suatu hari di perlihatkan seperti ‘benang nglawer’ kayak semacam benang putih bercaya dan bergelantung seperti tali, itu jika diterjemahkan menurutnya adalah batas garis awan panas. Tidak semua orang pertama dilihatkan dan tidak semua orang bisa membaca tanda-tanda yang di timbulkan oleh Merapi, ini yang dialami oleh Mbah Marjo. Kejadian Mbah Marjo dilihatkan cahaya seerti benang ini sebelum tahun 1994, terjadi sebelum letusan besar di tahun tersebut. Persepsi akan tanda-tanda kejadian alam dan non ilmiah ini bisa sangat berbeda dan  pemaknaanya juga bisa berbeda jika terjadi pada orang lain.  Kejadian akan tanda-tanda non ilmiah itu telah di buktikan sendiri oleh Mbah Marjo akan arah ancaman hembusan awan panas, benar adanya.

Di Dusun Turgo, telah membuat kesepakatan dengan seluruh warga bahwa pelanggaran jika melakukan penambangan pasir atau batu dari Merapi. Semua warga memaknainya dengan membuat kebijakan sendiri tanpa tambang. Warga telah sadar dan ingin merawat airnya dengan tetap mengalir bersih dengan merawat sumber mata air dan alamnya serta hutan yang dimilikinya di wilayah Turgo tersebut karena setiap warga pasti akan membutuhkannya untuk berkehidupan dan agar anak cucu juga dapat menikmati air bersih. Mereka tetap menjaga kawasan Merapi tetap lestari. Warga Turgo juga masih menajalankan kearifan lokal seperti keselamatan 7 hari, kenduri, ronda, memasak sego golong, tumpengan dan lain sebagainya yang masih di jalankan secara turun temurun. Permasalahannya di wilayah Turgo yang termasuk wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM), akan bisa terjadi selalu ada benturan-benturan tetapi disatu sisi kearifan lokal apakah benar-benar TNGM memanfaatkan warga atau apakah warga dapat memanfaatkan TNGM? Sejak 2001-2002 sudah ada unsur penolakan taman nasional, karena TNGM itu adalah sebuah proyek dikarenakan masyarakat tidak bisa mengakses sumberdaya hutan. Sebagai contoh, masyarakat dalam mencari bambu, kayu bakar sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari akan lebih sulit di dapat. Keberadaan TNGM oleh masyarakat adalah sebuah pelarangan pengambilan terhadap sumber alam yang terdapat di sekitar Merapi, padahal masyarakat itu sudah bisa menjaga kelestariannya dan menjaga sumber dayanya sendiri serta bisa membuat hutan dan alam sebagai pemenuhan akan kebutuhan hidup masyarakat dari hasil bumi tersebut tanpa harus merusaknya. Apakah keberadaan TNGM ini manfaatnya terhadap masyarakat itu lebih besar? Apakah TNGM itu pengertian terhadap hewan ternak warga yang selama ini adalah sebagai hewan peliharaan juga sebagai tabungan mereka juga sebagai mata pencaharian utamanya karena yang terpenting buat warga adalah hewan ternak tersebut dapat tercukupi makan dari hasil hutan dan alam yang mereka tinggali dan jaga hingga kini?

Karena terdapat kasus di Ngandong ada orang nebang pohon dan di penjara 3 bulan, gara-gara mengambil kayu dan ternyata kayu tersebut milik orang Mangungan, sehingga akhirnya Walhi berperan membantu warga mengadvokasi kasus tersebut dan di tetapkanlah adanya hutan rakyat dan hutan lindung di tetapkan. Warga Turgo, memang membutuhkan ‘ngarit’ di hutan untuk memberikan makanan buat ternaknya, dan jika tidak boleh mengambil rumput di hutan oleh TNGM, seluruh warga siap untuk di penjarakan bukan hanya satu orang saja tetapi keseluruhan. Padahal jika terjadi kebakaran hutan di Merapi, warga selalu membantu pemadaman kebakaran yang terjadi, bahkan petugas TNGM nya sendiri tidak berkutik untuk memadamkan, sehingga di butuhkan kerjasama yang bersinergi antara TNGM, pemerintah dengan warga harus berbagi kebermafaatan hutan.

Proses pengungsian warga Turgo pada tahun 1991, mereka mengungsi di barak pengungsian di lokasi-lokasi umum seperti sekolah, masjid dan lainnya atas kemauan warganya bukan karena instruksi dari pemerintahan. Sekitar tahun 1994, pemerintah membangunkan tempat barak pengungsian yang di gunakan oleh warga Turgo hingga sekarang jika sewaktu-waktu Merapi meletus. Telah ada perubahan penanganan kebencanaan yang dilakukan oleh pemerintah Indoensia, Undang-undang kebencanaan lahir tahun 2007, dalam implikasinya tahun 2006 warga Merapi sudah mulai Merancang kearah yang lebih baik dalam penanganan pengeurangan resiko bencana. Jadi memaknai sebuah bencana, sebuah ancaman pasti ada siklusnya. Jaman dulu, pembacaan tanda dari mimpi, gaib, non alamiah, dan masih melihat bahwa gunung Turgo adalah bibi biungnya Merapi, tetapi toh sekarang tetap terkena ancaman bencana Merapi juga. Hal-hal yang seperti itu memang kadang ada benarnya, tetapi sekarang pemikiran tanda-tanda bahaya Merapi secara logis bahwa Merapi adalah sebuah ancaman yang suatu saat bisa membahayakan warga. Jaman dahulu warga masih menunggu, bahwa jika ada bencana terjadi oleh Merapi dan mengalami korban berjatuhan warga masih ketergantungan dengan peran pemerintah, warga masih belum ada 'olah rasa'-nya melihat Merapi itu seperti apa. Sebelum ada Undang Undang belum ada pengungsi mandiri, adanya pengungsi mandiri itu pasca tahun 2006.

Tahun 1994, 1997, 1999, 2001, warga masih seolah olah jika terjadi bencana dianggap sebuah takdir, sebetulnya sebuah bencana selalu beresiko, berpotensi ada korban jiwa, jadi peran penanggulangan bencana tersebut perannya di ambil alih oleh pemerintah. Tetapi kalo sekarang warga Merapi sendiri sudah ada indikasi sudah ada kesadaran soal penanggulagan resiko bencana, ada kesepakatan, ada mekanisme yang baik dari warga sendiri adanya evakuasi mandiri, jika sekarang menunggu-nunggu peran dari pemerintah ya warga tidak akan makan dan tak terurus di pengungsian. Jika warga sudah merasa terancam, masyarakat dengan sendirinya mengungsi, masyarakat sudah sadar adanya ancaman yang terjadi dari letusan Merapi. Dengan adanya kemandirian warga dalam di barak pengungsian, di Turgo masih di ampu oleh teman-teman Tagana dan PMI walaupun ada relawan lainnya. Sebetulnya strategi urusan logistik adalah hal yang sederhana, bahwa masyarakat sudah menyiapkan beras yang disimpan untuk kepentingan genting jika sewaktu waktu terjadi bencana dari Merapi, dengan metode yang di namai adalah mekanisme “Tas Siaga” jadi di setiap rumah sudah ada penyipan tas yang berisi dokumen-dokumen penting, baju, celana maupun makanan yang bisa bertahan lama. Hal tersebut sudah terbangun di warga sekitar Merapi khususnya di Turgo. Apalagi sekarang karakter Merapi sudah berbeda dari jaman dulu, justru hal ini membangun kesadaran warga kembali akan hal pengurangan resiko bencana. Kesusksesan disini adalah sudah melatih dan menghasilkan warga Merapi sadar tentang bahaya Merapi.

Di dusun Turgo terdapat sirine sebagai peringatan dini warga tetapi rusak dan hingga saat ini warga Turgo tidak pernah tau bunyinya seperti apa. Seharusnya ada peran simulasi secara nyata dalam mengahadapi bencana Merapi antara pemerintah dengan warga untuk mencoba untuk membunyikan sirine tersebut sebagai peringatan dini dan warga diberitahu kemana dan seperti apa proses pengungsiannya. Tetapi jika peringatan dini yang berupa sirine dari pemerintah bangun tersebut saja rusak terus terusan, warga akhirnya menggunakan tiang listrik yang di pukul keras-keras untuk peringatan dini warga, karena Turgo berjarak hanya 5 kilometer dari puncak Merapi. Jika jiwa kita masih belum merasa terancam, tidak harus cepat-cepat untuk mengungsi, begitupun sebaliknya jika merasakan jiwa kita sudah merasa terancam, diharapkan langsung mengungsi. Nah, yang jadi masalah disini adalah warga masih belum memahami antara perbedaan mana yang aktivitas meningkat dengan status kegunungan meningkat. Jika aktivitas meningkat, itu adalah niscaya sebuah gunung berapi, tetapi jika ada peningkatan status yang meningkat jika dari status normal ke waspada, waspada ke siaga hingga awas maka warga disini sudah harus tau peran masing-masing seperti siapa yang melakukan apa, kapan, kebutuhannya seperti apa. Informasi soal status dan peningkatan aktivitas kegunung apian didapat dari handy Talky (HT).



sumber:  https://www.facebook.com/notes/10152880709735480/?pnref=story

Kamis, 13 November 2014

GEGURITANE WONG MERAPI


Diterbitkan tanggal 5 Nov 2014
Ki Lowo Ijo (subur) adalah crew Radio Komunitas Lintas Merapi, dia mengilustrasikan melalui Puisi Jawa yang di sebut Geguritan,Jika mendengarkan dan memahami yang di maksud adalah, Kita mengenal merapi agar dekat dan memahami Gunung merapi,kita tidak usah meninggalkan merapi secara permanen (relokasi) tetapi kita harus tahu kapan kita menjauh,kapan kita memanfaatka berkahnya,Merapi tidak pernah meminta,merapi tidak minta ganti atas berkah yang telah di berikan kepada manusia,tetapi memberikan peringatan pada kita agar menjauh saat mengantar berkah tersebut... Berbudaya dan tetap siaga

Rabu, 12 November 2014

Asmarandana Merapi

"Buku ini mendokumentasi upaya-upaya warga, pemerintah dan para pihak yang melakukan hal-hal signifikan dalam beradaptasi dan bertransformasi pasca erupsi Gunung Merapi tahun 2010. Kita akan menemukan inisiatif-inisiatif kecil di tingkat warga seperti sistem informasi desa dan audit sosial dalam rehabilitasi dan rekonstruksi, serta pemulihan penghidupan berkelanjutan dalam konteks pengurangan kerentanan terhadap risiko bencana.
Asmaradana Merapi merupakan simbolisasi hubungan serasi antara warga dan Gunung Merapi. Adaptasi dan transformasi agar bisa hidup berdampingan bersama Merapi, merupakan kidung asmaradana itu sendiri."
Silahkan download "Buku Asmaradana Merapi" di:
http://goo.gl/XMt0Et

Rabu, 05 November 2014

Nyanyian Anak Merapi


Sebagai salah satu kreasi yang paling indah alam dan dibangun dari letusan gunung berapi yang
berulang-ulang, gunung berapi juga merupakan sistem alam dan selalu memiliki unsur-unsur
ketidakpastian. Kehadirannya yang menarik di satu sisi, dibarengi dengan bahaya yang berpotensi hadirdi sisi yang lain. Di Gunung Merapi, selama 100 tahun terakhir telah terjadi lebih dari 130.000 korban jiwa dan ratusan desa dan ribuan hektar lahan pertanian telah hancur. Hal ini disebabkan oleh
peningkatan populasi, orang-orang yang tinggal di daerah sekitar Gunung Merapi bergerak lebih dekat ke puncak.

Seperti kita ketahui, masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Merapi memiliki sejarah panjang
pengalaman hidup bersama bahaya gunung berapi. Mereka dapat bertahan hidup dan melakukan
aktivitas di sepanjang lereng gunung berapi. Dengan mengetahui karakter Gunung Merapi melalui
pengalaman, mereka mencoba untuk hidup dalam harmoni dengan dinamika gunung berapi. Sejarah
panjang semua gunung ternyata lebih memberkati orang yang hidup di lereng kaki gunung dengan
pemandangan indah dan tanah yang subur tersebut.

Tahun 2010 silam, kawasan sekitar Merapi luluh lantah diterjang awan panas Gunung Merapi hingga radius 17 km dari puncak Merapi di sepanjang bantaran sungai yang berhulu di merapi,ratusan korban jiwa, rumah rusak jalan hancur. Tapi semua itu mereka jadikan pelajaran untuk tetap bertahan hidup,untuk tetap berjuang demi keluarga dan teman. Nyanyian anak Merapi karya @HeyPujangga dan di nyanyikan oleh @HeyPujangga Feat @VibianaRissa menceritakan tentang kerasnya kehidupan anak lereng Merapi yang tetap gigih berusaha di tengah ancaman bencana dan kerasnya kehidupan di kawasan rawan bencana Gunung Api Merapi demi mewujudkan cinta untuk sang kebanggaan Super Elang Jawa PSS Sleman. Adapun Lirik dan video clip  dari nyanyian anak Merapi 1 dan nyanyian anak Merapi 2 adalah seperti di bawah ini :





..
Lirik Nyanyian Anak Merapi 1
Jroning dhada tekadku tanpo umpomo
Kantho sedyo lan suci
king Merapi nedyo
nyawiji lan sabelo….
Marang super elja nenggih,
Ingkang Jinangka rahayu kang sayekti
Menyusuri terjalnya bebatuan, tak membuat semangat ini padam
Masih ingatkah Merapi meluluhlantahkan,tanah kelahiran kita
Tak sedikit dari kami ,berangkat dari sini
Sampai suatu saat nanti akan terganti
Terima kasih selalu kuucapkan
Terima kasih selalu kutegaskan


Nyanyian anak Merapi 2
Nyanyian Merapi ini adalah simbol kebersamaan
Tentang Kebangkitan tentang perjuangan sesulit apapun akan tetap berusaha
Memberikan yang terbaik untuk PSS SLEMAN
Terdesak dalam segala kondisi
Semangat kami masih ada
Mari kawan mari satukan tujuan
Agar super Elja jadi juara
Karna Merapi yang selalu mengingatkan kami
Untuk mengingatkan kami untuk tetap bertahan untuk tetap berjuang
Karna Merapi yang slalu mengingatkan kami untuk hidup,untuk Super Elja

Hadirnya Nyanyian anak Merapi 2 adalah untuk mempertajam atau menegaskan dari nyanyian anak merapi 1. Tentang dukungan penuh dari warga Merapi untuk Super Elja atau PSS Sleman. Video clip nyanyian anak merapi dapat dilihat dan di unduh di link ini https://www.youtube.com/watch?v=KQFly5vFCgk .
Nantikan karya karya @HeyPujangga yang lain

Diterbitkan tanggal 22 Okt 2014
Video Clip Di Produksi oleh Hamba Tahayul Art
Music di Recam di Hamba Tahayul Art
Menceritakan tentang perjuangan suporter Super Elja atau PSS Sleman yang tinggal di sekitaran gunung Merapi

Thnks to : Badrue , @TotokHartanto , Momon , @pasagmerapi, sebagian video erupsi merapi diambil dari You Tube & Teman " yang ikut andil dalam pembuatan Video clip Nyanyian Anak Merapi


Minggu, 28 September 2014

Museum Mini Sisa Hartaku


Dari penemuan sisa-sisa barang rumah tanggga yang hancur, meleleh terkena erupsi, nantinya Ryan dapat bercerita dan melihatkan bukti-bukti kedahsyatan Merapi kepada anaknya kelak. Inilah tujuan awalnya pengumpulan barang-barang rumah tanggal yang hancur oleh Merapi. Bahwasanya, hidup berdampingan dengan Merpai ataupun berada di area bahaya itu penuh resiko agar kedepannya anaknya bisa selalu bisa belajar berdampingan dengan Merapi dan selalu hati-hati dan waspada.

Ryan nama aslinya adalah Sriyanto, selain penginisiasi museum, beliau juga bekerja di lapangan Merapi Golf di bagian gudang di bawah kepala bagian umum. Dia mengawali bekerja di Merapi Golf mulai tahun 1992 hingga saat ini. Selain itu juga dia nyambi membantu orang tua mengurusi ternak dan berkebun sepulang dari kerja dan merawat museum yang saat ini sedang di kembangkannya. Dahulu sebelum terjadi letusan Merapi tahun 2010, kampungnya Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman adalah desa wisata yang maju dengan mengembangkan agronobisnis kopi arabika khas dari Merapi dan penunjangnya adalah mengembangkan ternak sapi perah yang menghasilkan susu berkualitas yang di pasarkan di sekitar Yogyakarta. Dari hasil perkebunan kopi dan susu perahan sapi ternak di olah dengan semi modern tersebut di kelola oleh koperasi setempat. Dusun tersebut juga mengembangkan bidang seni dengan mendirikan sanggar tari oleh Ryan juga Almarhum Ayahnya di dukung ibu Sukirah bersama Kadus Pak Pairin dengan maksud dan tujuan menggalang anak-anak untuk tetap bermain berkreasi juga melestarikan budaya tari jawa. Ryan di bantu dengan Remon (peduli kesenian) juga mendirikan kesenian musik karawitan  dan grup musik Khosidahan.

“Awalnya, niatan saya tidak ingin membuat museum, waktu itu hanya perihatin saja melihat rumah-rumah sudah porak poranda, melihat puing-puing rumah itu hati saya pedih dan trenyuh, karena rumah saya ibaratkan adalah benda pusaka”, Kata Ryan Pemilik Museum Mini Sisa Hartaku. Waktu Simbah saya membuat rumahnya dahulu juga membuatnya dengan keprihatinan, mulai dari itu Ryan berinisiatif untuk membersihkan rumah yang sudah porak poranda. Ini dilakukan ‘nyambi’ setelah bekerja atau sebelum bekerja ke suatu instansi swasta di dekat rumahnya di Cangkringan. Sambil membersihkan rumah, jika keadaan lingkungan rumah itu terlihat bersih dan rapi biarpun yang nampak cuman lantai saja tetapi melihatnya itu lebih nyaman dan enak di pandang. Sambil membersihkan, Ryan menemukan sisa barang-barang rumah tangga, disamping itu dia juga penasaran barang-barang rumah tangga tersebut mengingatkan waktu dulu sebelum terkena erupsi saat menaruh dan letaknya barang-barang  tersebut. Karena penasaran, ingin tahu kondisinya seperti apa setelah dampak terkena erupsi letusan gunung Merapi? Kemudian Ryan memulainya dengan menghancurkan tembok-tembok, membersihkan sedikit demi sedikit dan mulai menemukan sisa-sisa barang rumah tangga yang berserakan dan kebetulan saat di pengungsian dia merasa mendapatkan anugerah dari Tuhan karena Ryan diberikan kelahiran anak yang kedua, anaknya yang pertama sekarang sudah kelas 2 SMP. Merasa beruntung sudah di karuniai seorang anak yang di lahirkan saat di pengungsian dampak erupsi Merapi tahun 2010, hingga sekarang anaknya berumur kira-kira 2,5 tahun. Dari penemuan sisa-sisa barang rumah tanggga yang hancur, meleleh terkena erupsi, nantinya Ryan dapat bercerita dan melihatkan bukti-bukti kedahsyatan Merapi kepada anaknya kelak. Inilah tujuan awalnya pengumpulan barang-barang rumah tanggal yang hancur oleh Merapi. Bahwasanya, hidup berdampingan dengan Merpai ataupun berada di area bahaya itu penuh resiko agar kedepannya anaknya bisa selalu bisa belajar berdampingan dengan Merapi dan selalu hati-hati dan waspada.

Dari situlah, Ryan sengaja mengumpulkan dan mulai mencari sisa-sisa barang rumah tangga semakin banyak dan semakin nambah dari hari ke hari. Tetapi, saat itu dia belum mempunyai ide untuk membuat museum. Di sebrang jalan di rumah Pak Lik nya Ryan, ada relawan dari Jepara dari pondok pesantren yang sedang membersihkan rumah-rumah yang hancur yang diakibatkan letusan Merapi. Kemudian Ryan berinisiatif untuk meminta tolong kepada relawan tersebut, dan permintaannya dipenuhi. Waktu itu di bagi beberapa kelompok kelompok untuk membersihkan seluruh bagian-bagian rumahnya. Pada saat relawan membersihkan di rumah Ryan, mereka menemukan sisa jam dinding, dan waktu Ryan datang, relawan berteriak-teriak memberitahukan bahwa mereka menemukan jam dinding tersebut yang di sudah di letakkan di atas selokan. Dan waktu Ryan mengecek jam dinding itu, dilihat kondisinya jam tersebut jarum jamnya masih kelihatan jelas sekali dan jarumnya sudah tertanam di plastiknya karena sudah meleleh. Ryan sebetulnya terinspirasi oleh temennya Bambang yang mempunyai camping ground di Umbulharjo untuk mengumpulkan sisa-sisa erupsi. Mulai dari situ, timbulah pemikiran untuk membuat museum dan semangat untuk mengoleksi barang sisa erupsi dan dipajang hingga saat ini. Sekarang koleksinya semakin banyak dan dipamerkan untuk umum dan gratis.

Ada kain dekorasi kas punyanya Karangtaruna cangkringan ketemu dan terbakar kemudian di bersihkan oleh Ryan dan dirangkai dibuat umbul-umbul  di didirikan di sepanjang jalan depan rumahnya yang sekarang di buat untuk pameran koleksinya sebagai museum. Tak pelak, banyak cibiran dan di ketawain oleh tetangganya bahkan ibunya sendiri, kadang malah dia kira stress atau gila karena semua hartanya sudah habis terbakar termasuk rumahnya. Tetapi Ryan tak gentar untuk tetap mengkoleksinya sebagai barang-barang seni yang nantinya akan menjadi sangat berharga, bernilai dan sebagai bukti pembelajaran bahwa penting hidup berdampingan dengan Merapi dengan bahaya. Ada temennya dari Kaliurang, namanya Wanto yang ingin survey jalur wisata untuk Jeep off road melintasi seputaran dampak letusan Merapi dan kebetulan dia mengetahui bahwa Ryan memajang menata-nata barang-barang sisa erupsi di letakkan di rumahnya, akhirnya Wanto mampir dan memberikan semangat untuk tetap mencari dan berusaha untuk memberi dorongan memperlengkap koleksi. Sehingga jika wisata Jeep off road nya sudah jadi maka pengunjung akan di ajak untuk melihat koleksi barangbekas erupsi Merapi karena ini merupakan bukti nyata kedahsyatan erupsi Merapi dan sebagai sumber pengetahuan yang tak ternilai harganya. Ryan semakin semangat untuk mengembangkan museumnya. Bambang juga memberikan mendukung apa yang di lakukan Ryan.

Dari ide gagasan Ryan yang tidak di sengaja ini, dia berharap yang paling utama untuk tetangga disekitar rumahnya adalah jika ingin berusaha untuk bergabung membangun usaha jualan di areal museum di persilahkan. Ryan tidak akan mengkomersilkan dan sebagai ladang bisnis semata dalam membangun museumnya yang telah dirintisnya. Artinya pengunjung yang masuk museum mini hartaku tidak di pungut biaya. Ini merupakan komitmen dia yang di pegang teguh. Ryan hanya menerima donasi dengan ikhlas dengan meletakkan kotak amal sebagai untuk dana sosial dan sisanya untuk pengembangan menjaga aset museum. Ryan juga mengatakan, “tetangga sekitar dapat ikutan berusaha nimbrung untuk meramaikan museum dengan bisa membangun kios jualan untuk peningkatan taraf perekonomiannya”.

Ryan menginginkan agar Dinas Pariwisata tahu ada salah satu warganya ini yang punya inisiatif dengan kesadaran sendiri untuk melestarikan aset pengetahuan dan mengkoleksi barang yang menjadi saksi letusan Merapi dan juga ikutan aktif mengembangkan harta budaya sebagai museum yang di kembangkannya. “Etalase sangat diperlukan untuk melindungi dan menjaga agar barang-barang koleksi sisa erupsi tetap terjaga dengan baik tetapi dana untuk membuat etalase itu belum bisa Saya wujudkan”,  Ryan menambahkan.

Beberapa cerita mengenai koleksinya yang menarik adalah bangkai sepeda motor yang terbakar yang di dapatnya dari salah seorang teman akrab pegiat di organisasi kesiapsiagaan namanya Pasag (Paguyuban Sabuk Gunung) Merapi, Totok dari dusun Srodokan, saat itu mempunyai 3 unit motor yang terbakar dan diminta untuk di beli sebagai penambah koleksi museum tetapi keluarga Totok tidak menginjinkannya, hanya saja jika sepeda motor itu di pajang di museum asal tidak di jual di perbolehkan. Ada juga beberapa benda-benda pusaka dari teman lainnya mengantarkan secara suka rela untuk kepentingan museum. [Nuno]

Selasa, 08 Juli 2014

Menabung untuk Merapi


“Nyaman Bersama Ancaman” itulah motivasi bagi masyarakat merapi,,di dusun deles banyak kegiatan yang bertujuan untuk mewujudkan itu,salah satu yang sangat menarik adlah tabungan siaga bencana (Tabsina),jika para bapak menabung untuk persiapan biaya evakuasi ternak,sedangkan ibu-ibu menabung untuk kebutuhan mendadak di pengungsian nanti,jika merapi aktivitasnya naik dari aktifnormal ke level di atasnya maka tabungan akan di ambil ke Bank,
Sederhana Tatacaranya
Tabungan Siaga bencana di kelola oleh pengurus Rt dan di masukan ke Bank BRI,sedangkan ibu ibu setelah ngumpul dananya di masukan ke bank oleh Ibu Rt,setiap orang bebas menabung berapapun,tapi untk yang bapak-bapak menambung di batasi minimal Rp.5000 sekali setor. Jika bapak-bapak mempunyai buku di masing-masing KK ,tetapi ibu-ibu lebih memeilih satu buku untuk satu kelompok Rt, modal percaya saja.
(Sukiman LM)

Senin, 07 Juli 2014

Memaknai Merapi : Warga Tangguh, Warga Berdaya

Rasa syukur itu terlebih menemukan maknanya ketika memori warga terantuk pada Peristiwa traumatik yang teramat mengguncang warga Turgo, 16 tahun silam. Tepatnya pada Selasa Kliwon, 22 November 1994 pukul 10.00, gumulan wedus gembel yang terlepas dari mulut Merapi telah merenggut korban 68 jiwa (43 diantaranya adalah warga Turgo), 40 rumah hancur, 137 ekor ternak mati, 174,4 ha lahan pertanian rusak, 683,7 ha hutan rusak, 8.716 m pipa air bersih rusak. Dalam peta kebencanaan letusan gunung berapi, Dusun Turgo yang masuk dalam kewilayahan Desa Purwobinangun, memang terhitung sebagai salah satu wilayah rawan bencana nomor wahid di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam konteks kebencanaan itu, wilayah Dusun Turgo yang beradadi apitan hulu badan Kali Boyong di sisi timur dan Kali Ledok Lengkong (begitu warga menyebut) di sisi baratnya memang sering jadi pusat perhatian publik tatkala Merapi mulai bergolak.

Mengenang pada kenangan pahit yang beruntun itu, maka berulangnya erupsi pada tahun 1997, 2006, dan 2010 silam selalu saja menggedor kesadaran dan memori kolektif warga Turgo untuk senantiasa eling lan waspada. Ditilik dari tingkat kesadaran pengurangan risiko bencana (disaster risk reduction), warga Turgo bisa diandalkan, kendati tetap harus senantiasa dimutakhirkan.
Turgo adalah legenda. Senantiasa namanya terlekat pada keberadaan situs Merapi Purba yang nampak kerdil di ujung kaki Merapi sisi barat daya. Kendati jauh berlipat kecilnya dari Merapi, namun warga sekitar meyakini bahwa bukit Turgo itulah yang selama ini membentengi dan menyelamatkan mereka saat Merapi punya gawe (erupsi). Keyakinan warga begitu lekat bahwa tak akan mungkin Merapiberani melangkahi atau bahkan menelan bibi pengasuhnya sendiri: Gunung/Bukit Turgo. Maka, bersandingkan bukit Turgo, komunitas warga yang bermukim di sisiselatannya pun hidup dalam damai tanpa perlu beselimut cemas. Kendati hidupberkawan dengan bahaya (living with risk), namun pernaungan kosmologi Turgo-Merapi teramat cukup bagi warga untuk berdaya tahan. Kosmologi itu adalah worldview yang tak akan pernah tercerabut dari jagad batin sebagian besar warga di Dusun Turgo, bahkan oleh maut sekalipun. Sesial apapun, mereka toh masih merasa berkesempatan menyaksikan tanah wutah getih-nya terbenahi dan terpulihkan lagi. Kalis ing bebaya (terhindar dari segala mara bahaya) adalah berkah yang tak terpermanai bagi mereka.

Kendati penuh dengan kelungkrahan, denyut nadi kehidupan warga Turgo perlahan-lahan pulih kembali. Memang, ada yang magis saat warga fasih menjereng nama Turgo sebagai nggenturke rogo, yang merujuk pada makna usaha keras manusia untuk menempa atau mendisiplinkan raga, tubuh jasmaniahnya. Relasi antara sebutan Turgo dan nggenturke rogo bukanlah sekadarrelasi kosong antara akronim dan kepanjangannya, atau dalam bahasa Jawa disebut keroto boso. Melampaui itu, nggenturke rogo telah menjadi ruh/jiwa yang menjelma dalam laku hidup keseharian warga Turgo, sebagai anak-cucu-cicit-canggah Mbah Cakrapada—leluhur cikal bakal Dusun.

Ada kesan kuat, ketangguhan kemandirian, dan kejuangan hidup warga Turgo seolah “cukup” tanpa “kehadiran negara” sekalipun. Mereka akan tetap ada dan hidup untuk diri dan seluruh trah Mbah Cakrapada dalam segenap ke-ugahari-an mereka. Senyatanya, mereka adalah manusia-manusia pekerja yang ulet dan tangguh demi terselenggaranya kehidupan keluarga dan komunitas di pereng tepi barat daya Merapi itu. Kewaspadaan dan kesiapsiagaan warga mengantisipasi bencana erupsi telah menjadi keutamaan yang senantiasa mereka hidupi. Hanya saja berbagai belitan kerentanan (sosial, ekonomi, fisik, dan lingkungan) masih saja mencengkeram sekaligus mengancam kehidupan warga Turgo. Proses mitigasi bencana yang holistik belum tersentuh oleh intervensi kebijakan negara. Menjadi tak mengherankan jika penanganan atas berbagai kerentanan yang melingkupi warga Turgo masih sangat parsial. Kalau pun toh pendampingan multi pihak itu lengkap di setiap sektor, namun penanganan yang terintegrasi/ holistik adalah suatu keutamaan yang langka terjadi. (Widyanta)

Menurut penuturan sesepuh dusun, Mbah Marjo, “Manungsa, alam paringane Gusti. Mila manungsa kedah menfaataken kanthi dipun jagi ingkang sae. Awit kabetahanipun tiyang gesang: toya, siti lan sanesipun, kawula menawi mboten dipun mekaraken mangkenipun badhe mboten cekap.” Maksudnya, bahwa manusia dan alam adalah ciptaan Tuhan, sehingga manusia harus memanfaatkan dan menjaganya dengan baik. Kekayaan alam yang dimanfaatkan dan dijaga dengan baik tentu akan dapat mencukupi kebutuhan manusia sampai generasi yang akan datang. Tetapi apabila tidak dimanfaatkan dengan baik pasti akan merugikan manusia sendiri. Begitupula, kita harus menjaga alam di sekitar gunung Merapi ini karena Merapi lebih sering menawarkan kebahagiaan melalui kesuburan tanah dan ketersediaan sumber air, komponen pokok kehidupan mereka sebagai petani, daripada kesusahan. Lahir dan hidup di lereng Merapi, erupsi, bertahan hidup, dan tetap "eling lan waspodo" adalah proses pemurnian alam kemanusiaan. Dalam masa ini semua akan terlihat apa adanya, baik atau jelek. "Hidup dan mati, saya pasrahkan kepada Gusti Pengeran", kata Mbah Marjo



Penulis : Nuno rahman
Sumber: https://www.facebook.com/notes/nuno-rahman/warga-tangguh-warga-berdaya/10152517786490480?notif_t=note_tag

Kamis, 03 Juli 2014

Ragam Budaya Masyarakat Merapi

Pasca erupsi merapi membuat mereka yang tertimpa bencana kehilangan fondasi kehidupan, mulai dari lapangan pekerjaan, rumah tempat tinggal, perlengkapan hidup, hingga transportasi yaitu akses jalan yang terputus  akibat terjangan lahar merapi. Masyarakat yang kehilangan tempat tinggal, meninggalkan kampung halamannya dan mengungsi ketempat yang lebih aman. Secara umum bentuk perkampungan di daerah pegunungan yang biasa tersebar, dan interaksi diantara sesama anggota masyarakat kurang intense, sekarang berubah menjadi pemukiman yang memusat pada shelter pengungsian yang membuat interaksi serta hubungan antar anggota masyarakat lebih erat.

Gunung Merapi merupakan sebuah fenomena alam yang tidak saja dapat dijelaskan secara positif oleh para ilmuwan vulkanologi dengan segala perangkatnya seperti seismograf, teropong inframerah, pemantau lahar elektronik, dan lain-lain. Namun, selain sebagai sebuah gejala alam, bagi masyarakat Yogyakarta sebagai penduduk setempat, Gunung Merapi merupakan simbol kekuatan magis yang melingkupi Jogja dimana Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, Pantai Selatan, dan juga Gunung Merapi berada dalam satu garis lurus yang dihubungkan dengan simbol Tugu Jogja di tengahnya. Artinya, Gunung Merapi adalah sebuah fenomena alam yang tidak hanya dapat dijelaskan oleh sebuah pengetahuan (vulkanologi) dengan metode dan analisis rasional tetapi juga pengetahuan lokal yang berbasis pada kebudayaan masyarakat setempat. Pengetahuan-pengetahuan tersebut melibatkan berbagai sistem tanda yang kontekstual yang berimplikasi pada cara masyarakat setempat berinteraksi dan menginterpretasikan lingkungan sekitar mereka.
Gambar tgl 19 Mei 2013, di puncak gunung merapi yang tampak magma mendidih berada di kawah bekas letusanGambar tgl 19 Mei 2013, di puncak gunung merapi yang tampak magma mendidih berada di kawah bekas letusan
Bencana merapi memberikan dampak yang sangat luas, diantaranya dampak pada aspek sosial, yaitu kematian pada masyarakat sekitarnya. Selain itu akibat erupsi merapi, petani kehilangan mata pencaharian akibat kerusakan lingkungan (lahan tertutupi abu dan ternak mati). Aspek kultural menjadi pertimbangan utama yang harus dilkukan dalam upaya mencegah dampak letusan merapi. Hubungan yang tercipta dan sistem budaya yang mengikat masyarakat dengan lingkungan ini yang sangat sulit memisahkan masyarakat terutama petani dengan tempat awalnya. Budaya yang terbentuk dalam sejarah turun temurun dalam kehidupan masyarakat dengan merapi mempengaruhi gaya hidup, menuntun pola perilaku dan kondisi kejiawaan masyarakat lereng merapi. Lingkungan sekitar merapi sebelum erupsi sangat indah dan terutama lahannya yang sangat subur, interaksi antar masyarakatpun sangat baik. Salah satu alasan petani tidak mau dipindahkan adalah karena kondisi tersebut. Petani yakin bahwa, kemurkaan merapi merupakan kehendak Tuhan sehingga keselamatan adalah kehendak Tuhan, pemahaman ini sejalan dengan konsep hidup masyarakat Jawa yaitu ‘Nerimo ing Pandum’ dimana konsep ini menggambarkan pola hidup orang jawa yang pasrah dengan segala keputusan yang telah di tentukan oleh Tuhan. Orang jawa memahami betul bahwa setiap kehendak ada yang mengatur, sehingga kita tidak dapat mengelak, apalagi melawan semua itu. Konsep ini merupakan satu point yang harus diperhatikan pemerintah, sehingga pendekatan yang dilakukan benar dan tepat, tanpa ada gesekan yang dapat menimbulkan konflik. [Siti Tan/BPPTP]

Masyarakat Merapi mempunyai pola pikir sederhana yang mengedepankan kebersamaan, gotong royong, tepo seliro, dimana terlihat dalam pengelolaan tradisi setiap dusun seperti upacara adat dan kesenian. Sebagai implikasi dari cara pandang masyarakat Jawa tentang alam beserta segala isinya tersebut maka masyarakat Jawa sebagai aktor yang menjalani kehidupan selalu menempatkan dirinya pada posisi di bawah kehendak Sang Maha Penguasa Alam. Mereka selalu mengutamakan keselarasan (harmoni) dengan alam sehingga dapat dicapai keselamatan dan kesejahteraan hidup. Kebudayaan sebagai pedoman hidup mereka pun berisi tentang pengetahuan-pengetahuan untuk menginterpretasi lingkungan alam dan lingkungan sosial yang ada disekitar mereka.

Disamping konsep diatas, kepercayaan tersebut sebagai bentuk membudaya dalam berinteraksi meyakini mereka untuk tetap tinggal. Bahwa erupsi merapi hanya bagian dari dinamika yang pada akhirnya akan memberikan kesejahteraan bagi warga lereng merapi. Keyakinan akan kesejahteraan yang terberi akan akan sulit diruntuhkan dan termasuk bagian dari aspek psiko-kultural yang tinggal dibenak warga. Secara logika-rasional, dalam jangka panjang pasca merapi, tanah yang terkena abu vulkanik akan meningkatkan kesuburan tanah. Kesuburan tanah berarti berbicara mengenai pengejawantahan dari pilihan frasa ‘sumber kehidupan’. Tanah adalah kehidupan akan memberikan kontribusi kesejahteraan yang kesuburannya ‘dijamin’ oleh merapi pasca erupsi.
Gunung Merapi telah menjadi bagian penting bagi kehidupan dan kebudayaan masyarakat sekitarnya. Kebudayaan yang berisi pengetahuan yang diperoleh masyarakat sekitar Merapi menempatkannya pada posisi yang penting dan sakral dalam kehidupan makrokosmos mereka. Dengan pengetahuan itu pula masyarakat sekitar mampu membaca dan menginterpretasi tanda-tanda dari gejala alam yang muncul dari Gunung Merapi. Gejala alam yang muncul akhir-akhir ini seperti keluarnya lahar dan awan panas (wedhus gembel) dari Merapi merupakan indeks yang dapat diinterpretasi secara beragam baik dari ahli vulkanologi, pemerintah, mau pun masyarakat sekitar. Bagi ahli vulkanologi dan pemerintah indeks itu berarti tanda bahwa Merapi dalam kondisi berbahaya dan akan meletus sehingga masyarakat sekitar harus segera mengungsi ke tempat yang aman. Sementara bagi warga masyarakat sekitar Merapi indeks itu bukan tanda bahwa Merapi akan meletus sehingga mereka menolak untuk diungsikan. Dalam kognitif mereka indeks Merapi dapat diinterpretasikan secara ‘sensitif’ dan menghasilkan makna yang mandalam.

Membangun budaya swadaya atau sikap untuk lebih mengenali diri sendiri dengan perspektif yang lebih baik, lebih jujur dan lebih tepat, berupaya untuk mengembangkan sifat kemandirian dan rasa percaya diri. Kerjasama dalam keseharian berupa gotong royong merupakan bagian dari sifat mandiri secara kolektif dalam mencapai tujuan secara efektif dan rasional. Salah satu pendekatan yang bisa dilakkan adalah memperkenalkan informasi-informasi yang tepat tentang tanda-tanda alam, bentuk-bentuk penyelamatan diri dan kecakapan mengatasi kepanikan. Hal ini dapat menambah keharmonisan dan menghilangkan ego individu satu dengan yang lainnya.



sumber : https://www.facebook.com/notes/nuno-rahman/ragam-budaya-masyarakat-merapi/10152507233330480